Minggu, 06 Desember 2015

PBL Modul Lesu

A. SKENARIO C.................................................................................................
Seorang anak perempuan berusia 8 tahun diantar ibunya ke Puskesmas dengan keluhan anak tampak lesu. Si anak malas makan dan Berat Badan kurang dari normal tetapi perut tampak agak buncit. Pada pemeriksaan fisis kuku terlihat panjang dan hitam, bising usus sangat ramai dan nyaring. Pemeriksaan laboratorium feses didapatkan telur yang dibuahi. Menurut ibunya, si anak suka bermain tanah dan kebiasaan menggigit kukunya.

B. KATA SULIT

C. KALIMAT KUNCI
Ø Perempuan 8 tahun
Ø Tampak lesu
Ø  Malas makan dan berat badan menurun
Ø  Perut tampak buncit
Ø  Pemeriksaan fisi kuku terlihat panjang dan hitam
Ø  Bising usus sangat ramai dan nyaring
Ø  Feses didapatkan telur yang dibuahi
Ø  Anak suka main tanah
Ø  Mempunyai kebiasaan mengginggit kukunya

D. PERTANYAAN 
1. Mengapa anak tersebut tampak lesu?
2. Bagaimana daur hidup parasit pada skenario ?
3. Patomekanisme terjadinya bising usus ?
4. Jelaskan hubungan gejala dan kebiasaan pada anak tersebut ?
5. Jelaskan langkah-langkah diagnosis ?
6. Differensial diagnosis
     a. Ascariasis
b. Ancylostomiasis & necatoriasis

E. JAWABAN
1. Mengapa anak tersebut tampak lesu?
     Jawab :
Oleh karena kurangnya gizi tubuh tetntunya akan berdampak pada kurangnya energi untuk beraktivitas. Hal ini bisa menyebabkan anak menjadi lemas dan lesu disamping juga dapat disebabkan karena anemia yang sering terjadi pada cacingan.
Anemia yang terjadi pada infeksi cacing dapat terjadi karena cacing menghisap darah dalam tubuh sekitar 2-100 cc per hari. Jumlah kehilangan darah ini jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama (kronis) akan berdampak pada timbulnya anemia. Anemia yang terjadi akibat infeksi cacing tergolong anemia defisiensi besi terkait hilangnya simpanan besi tubuh yang hilang bersama darah. Gejala anemia dapat berupa badan lemas, lesu dan mudah lelah. Indikasi yang mudah dilihat adalah gambaran pucat pada telapak tangan atau konjungtiva mata.1
















2. Bagaimana daur hidup parasit pada skenario ?
     Jawab :
Cacing dewasa menghasilkan telur-telur yang akan matang di tanah, saat telur ini tertelan, larvanya akan melubangi dinding usus, bergerak ke hati, jantung dan/atau paru-paru. Sesaat di dalam paru-paru, larva berganti kulit, setelah sepuluh hari bermigrasi lewat saluran udara ke kerongkongan tempat dimana mereka akan tertelan. Kemudian adapula masuk kedalam saluran pencernaan, Dalam usus kecil cacing dewasa kawin dan betinanya menimbun telur-telur yang akan dilepaskan keluar bersama feses. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.2
Pada scenario pasien anak perempuan tersebut sebelumnya harus ditegakkan diagnosis dengan melakukan pemeriksaan feses terdapat telur yang telah dibuahi. Apakah anak tersebut fesesnya merupakan telur dari Enterobiasis, Necatoriasis atau anchilostomiasis.
















3. Patomekanisme terjadinya bising usus ?
     Jawab :
Akibat dari aktivitas cacing yang ada pada usus halus dan gerakan peristaltik yang meningkat pada usus.3
Bising usus yang ramai & nyaring terjadi karena cacing yang menginfeksi usus menyebabkan iritasi pada mukosa usus sehingga menyebabkan gerakan peristaltik usus meningkat sebagai kompensasi tubuh agar tidak kehilangan banyak sari makanan yang telah dicerna sebelumnya.3























4. Jelaskan hubungan gejala dan kebiasaan pada anak tersebut ?
Jawab :
Kehilangan nafsu makan dan BB turun,
 Nafsu makan yang hilang diakibatkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh cacing dewasa di usus halus. Nafsu makan pada umumnya dikontrol oleh pusat kepuasan yang terletak di hipotalamus medius dan lateralis. Hipotalamus juga mengontrol pusat dibawahnya, terletak dibatang otak yang bertanggung jawab untuk salivasi, pengunyahan, dan penelanan Sedangkan pusat diatas hipotalamus bertanggung jawab terhadap apatis (keinginan untuk makan suatu macam makanan tertentu). Mekanisme untuk menentukan macam makanan ditentukan oleh memori penglihatan, pengecapan, penciuman dan perabaan. Mengutarakan bahwa anoreksia dan penurunan berat badan sering menyertai gejala infeksi/inflamasi. Beberapa sitokin yang terbukti menyebabkan anoreksia, yaitu IL-1, IL-6, IL-8, dan IFN γ.Sitokin dilepaskan sebagai reaksi terhadap kejadian infeksi atau inflamasi yang berpengaruh secara langsung terhadap otak sehingga menyebabkan anoreksia. Jadi, secara tidak langsung, saat nafsu makan pada anak kurang karena salah satu faktornya yakni infeksi atau inflamasi maka asupan gizi yang masuk kedalam tubuh juga berkurang sehingga terjadi penurunan berat badan.3

Perut buncit,
abdomen yang buncit bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yakni malnutrisi dan obstruksi usus oleh cacing.
Malnutrisi,
pada anak dengan nafsu makan yang kurang akan mempengaruhi asupan gizi yangkurang pula. Salah satunya adalah berkurangnya protein dan zat besi yang masuk kedalam tubuh.Kurangnya zat besi dalam tubuh, dapat mempengaruhi pembentukan Hemoglobin (Hb) yang merupakan komponen pembentuk albumin selain protein. Albumin yang berfungsi untuk menyeimbangkan osmolaritas cairan atau untuk retensi cairan berkurang sehingga penarikan cairan dari ekstravaskuler kedalam intravaskuler juga berkurang sehingga pada anak ini pada abdomennya tampak buncit
Di dalam tubuh nantinya telur ataupun larva cacing akan menetas dan berkembang menjadi cacing dewasa dan hidup dalam usus.  Cacing yang bersifat parasit ini akan bersaing dengan tubuh untuk  mendapatkan makanan.  Sari-sari makanan dalam usus akan ‘direbut’ oleh cacing sehingga tubuh pun kekurangan zat gizi.  Meskipun makan dalam jumlah yang cukup,  jika zat nutrisi yang masuk direbut oleh cacing tentunya keterpenuhan gizi tubuh akan tetap kurang






















5. Jelaskan langkah-langkah diagnosis ?
Jawab :
A.  Anamnesis4,5
a. Identitas :       Nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, status perkawinan, pekerjaan dan alamat rumah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
                        I. Keluhan utama
i.    Sejak kapan
ii.   Kronologi/urutan waktu
iii. Deskripsi gejala atau keluhan yang ada pada pasien : Lamanya, onsetnya (mendadak, atau mengangsur), faktor pencetus, gejala yang menyertai yang diperkirakan berhubungan.
iv. Gejala lain yang dirasakan : Nyeri, mual dan atau muntah, perubahan BAB, pendarahan rectum, Ikterus, Distensi abdomen, Massa, pruritus, gatal
II. Anamnesis sistem yang lain
Kepala, Mata Telinga, Hidung, Mulut, Tenggorokan, Leher, Jantung dan paru-paru, Lambung dan usus, Alat kelamin, Haid, Saraf dan otot, Kejiwaan, Berat badan
a.    Riwayat penyakit dahulu
b.    Riwayat Keluarga

B. Pemeriksaan Fisik4,5
Pasien harus berbaring lurus di tempat tidur. Tangan berada di sisi tubuh. Setelah itu dilakukan :
a. Inspeksi
I.  Evaluasi penampilan umum
Sering memberi informasi yang berharga. Contohnya pada pasien dengan kolik ginjal atau empedu, akan benar-benar terlihat menggeliat di tempat tidur karena tidak dpaat menemukan posisi yang aman.
Sebaliknya, peritonitis yang nyeri hebat kalau bergerak, jadi secara khas, pasien hanya terdiam dna biasanya lutut ditarik ke atas untuk membantu relaksasi otot perut dan mengurangi tekanan intra abdomen.
II. Menentukan frekuensi pernafasan
Pernafasan meningkat pada pasien dengan peritonitis generalisata, pendarahan abdomen atau obstruksi usus
III. Inspeksi Kulit
 Lihat apakah adanya warna kuning yang tampak (ikterus).
IV. Inspeksi Tangan
Lihat apakah ada otot-otot yang mengecil, dan juga melihat perubahan dari warna dan bentuk kuku
V. Inspeksi Wajah
Perhatikan warna dan mukosa dari wajah. Contohnya, ketika terdapat endapan melanin, berarti mengarah kepaa syndrome Peutz Jeghers; Telangiektasis pada bibir dan lidah mengarah pada sindrome Osler Weber rendu. Telangiektasi dapat berdarah secara tidak kentara, sehinggan menyebabkan anemia.
VI. Inspeksi abdomen
Perhatikan apa yang terdapat pada abdomen, apakah ada ketidaksimetrisan, distensi, massa, atau gelombang peristaltik yang dapat dilihat. Lihat juga apakah umbilikus alami eversi, dimana itu menandakan bahwa tekanan intra abdomen meningkat. Dan perhatikan juga tanda lainnya
VI. Inspeksi hernia
Pasiennya disuruh batuk, kemudian pemeriksa melihat pada daerah inguinal, umbilikal dan femoral karena apabila terjadi penonjolan pada daerah ini, mungkin pasien mengalami hernia.
b. Auskultasi
Auskultasi dilakukan diluan karena akan mengubah motilitas dari usus, sehingga akan mengubah hasil yang didapat nantinya.
Bunyi yang didengar adalah bunyi usus di mana tiap 5-10 detik akan bernada tinggi. Apabila terdengar bunyi bruit, maka itu biasanya terjadi pada orang yang menderita stenisis arteri renalis atau aorta abdomminal.
c. Perkusi
Untuk memperlihatkan adanya distensi dari gas, cairan atau massa padat.  Bunyi yang normal ditemukan yaitu tymphani, dan daerah pekak pada bagian hepar.
d. Palpasi
Biasanya dibagi menjadi 2 : Palpasi ringan dan alpasi dalam. Kita melihat apakah ada nyeri pada saat palpasi

C. Pemeriksaan Penunjang6
Dilakukan pengambilan spesimen berupa feses (larva/ telur/ cacing) dan darah (eosinofil).
















7. Differensial diagnosis
     a. Ascariasis
Definisi
       Askariasis adalah suatu infeksi pada usus kecil yang disebabkan oleh suatu jenis cacing besar, Ascaris lumbricoides.7
       Ascaris lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan penyerapan makanan.12
Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik derajat infeksi dapat mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 – 10 tahun sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi. Cacing dapat mempertahankan posisinya didalam usus halus karena aktivitas otot-otot ini. Jika otot-otot somatik di lumpuhkan dengan obat-obat antelmintik, cacing akan dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal.12
Gambar Cacing Ascaris Lumbicoides dewasa.10



Epidemologi
Penyakit Ascariasis dapat ditemukan di seluruh dunia. Infeksi terjadi dengan frekuensi terbesar di daerah tropis dan subtropis, dan di setiap daerah dengan sanitasi yang tidak memadai. Ascariasis adalah salah satu infeksi parasit pada manusia yang paling umum. Sampai dengan 10% dari penduduk negara berkembang terinfeksi cacing – dengan persentase besar disebabkan oleh Ascaris. Di seluruh dunia, infeksi Ascaris menyebabkan sekitar 60.000 kematian per tahun, terutama pada anak.7
Prevalensi tertinggi ascariasis adalah pada anak usia 2-10 tahun, dengan intensitas infeksi tertinggi terjadi pada anak usia 5-15 tahun yang memiliki infeksi simultan dengan cacing lain seperti Trichuris trichiura dan cacing tambang. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa wanita dewasa Vietnam yang tinggal di daerah pedesaan, terutama yang terkena tanah pada malam hari dan tinggal di rumah tangga tanpa jamban, beresiko sangat tinggi untuk ascariasis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa tingkat ascariasis di seluruh dunia pada 2005 adalah sebagai berikut: 86 juta kasus di Cina, 204 juta di tempat lain di Asia Timur dan Pasifik, 173 juta di sub-Sahara Afrika, 140 juta di India, 97 juta di tempat lain di Asia Selatan, 84 juta dalam bahasa Latin Amerika dan Karibia, dan 23 juta di Timur Tengah dan Afrika Utara.10

Etiologi dan Patofisiologi
Seseorang dapat terinfeksi penyakit askariasis setelah secara tidak sengaja atau tidak disadari menelan telur cacing. Telur menetas menjadi larva di dalam usus seseorang. Larva menembus dinding usus dan mencapai paru-paru melalui aliran darah. Larva tersebut akhirnya kembali ke tenggorokan dan tertelan. Dalam usus, larva berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing betina dewasa yang dapat tumbuh lebih panjang mencapai 30 cm, dapat bertelur yang kemudian masuk ke dalam tinja. Jika tanah tercemar kotoran manusia atau hewan yang mengandung telur, maka siklus tersebut dimulai lagi. Telur berkembang di tanah dan menjadi infektif setelah masa 2-3 minggu, tetapi dapat tetap infektif selama beberapa bulan atau tahun.7
Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama sekitar 15 hari. Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke osepagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglottis masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.11
Siklus hidup cacing ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000 – 250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 – 4 minggu untuk tumbuh menjadi bentuk infektif. Menurut penelitian stadium ini merupakan stadium larva, dimana telur tersebut keluar bersama tinja manusia dan diluar akan mengalami perubahan dari stadium larva I sampai stadium III yang bersifat infektif.11
Telur-telur ini tahan terhadap berbagai desinfektan dan dapat tetap hidup bertahun-tahun di tempat yang lembab. Didaerah hiperendemik, anak-anak terkena infeksi secara terus-menerus sehingga jika beberapa cacing keluar, yang lain menjadi dewasa dan menggantikannya. Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimanamana, menyebar melalui tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.11

Gambar Siklus Hidur Askaris12

Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala awal ascariasis, selama migrasi paru awal, termasuk batuk, dyspnea, mengi, dan nyeri dada. Nyeri perut, distensi, kolik, mual, anoreksia, dan diare intermiten mungkin manifestasi dari obstruksi usus parsial atau lengkap oleh cacing dewasa. Penyakit kuning, mual, muntah, demam, dan nyeri perut berat mungkin mengarah pada kolangitis, pankreatitis, atau apendisitis.3
Mengi dan takipnea dapat terjadi selama migrasi paru. Urtikaria dan demam mungkin juga terjadi terlambat dalam tahap migrasi. Distensi abdomen tidak spesifik tetapi adalah umum pada anak dengan ascariasis. Nyeri perut, terutama di kuadran kanan atas, hypogastrium, atau kuadran kanan bawah, mungkin mengindikasikan komplikasi ascariasis. Bukti untuk kekurangan gizi karena ascariasis paling kuat untuk vitamin A dan C, serta protein, seperti ditunjukkan oleh penelitian albumin dan pertumbuhan pada anak yang diamati secara prospektif. Beberapa penelitian belum mengkonfirmasi keterlambatan perkembangan gizi atau karena ascariasis.10
Kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh penderita terjadi akibat pengaruh migrasi larva dan adanya cacing dewasa. Pada umumnya orang yang kena infeksi tidak menunjukkan gejala, tetapi dengan jumlah cacing yang cukup besar (hyperinfeksi) terutama pada anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi, selain itu cacing itu sendiri dapat mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan tanda alergi seperti urtikaria, odema diwajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas.12,13
Cacing dewasa dapat pula menimbulkan berbagai akibat mekanik seperti obstruksi usus, perforasi ulkus diusus. Oleh karena adanya migrasi cacing ke organ-organ misalnya ke lambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus dapat menyumbat pernapasan penderita. Ada kalanya askariasis menimbulkan manifestasi berat dan gawat dalam beberapa keadaan sebagai berikut:
1.       Bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus yang menyumbat rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen akut.
2.       Pada migrasi ektopik dapat menyebabkan masuknya cacing kedalam apendiks, saluran empedu (duktus choledocus) dan ductus pankreatikus.12,13

Bila cacing masuk ke dalam saluran empedu, terjadi kolik yang berat disusul kolangitis supuratif dan abses multiple. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan telur cacing dengan bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairan empedu penderita melalui pemeriksaan mikroskopik.5,6
Penatalaksanaan  
Edukasi kesehatan memberikan pesan berikut akan mengurangi jumlah orang yang terinfeksi penyakit askariasis:1
-      menghindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran manusia;
-      mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum mengambil makanan;
-      mencuci, mengupas atau memasak semua sayuran mentah dan buah-buahan;
-      melindungi makanan dari tanah dan mencuci atau memanaskan makanan apapun yang jatuh di lantai.
Ketersediaan air yang digunakan untuk personal hygiene serta tempat pembuangan kotoran yang sehat juga akan mengurangi jumlah kasus. Dimana limbah digunakan untuk irigasi kolam stabilisasi sampah dan beberapa teknologi lainnya yang efektif dalam penurunan transmisi akibat makanan tumbuh di tanah yang terkontaminasi.7
Pada waktu yang lalu obat yang sering dipakai seperti : piperazin, minyak chenopodium, hetrazan dan tiabendazol. Oleh karena obat tersebut menimbulkan efek samping dan sulitnya pemberian obat tersebut, maka obat cacing sekarang ini berspektrum luas, lebih aman dan memberikan efek samping yang lebih kecil dan mudah pemakaiannya. 12,13
Adapun obat yang sekarang ini dipakai dalam pengobatan adalah:7, 9,11,12
1. Mebendazol.
Obat ini adalah obat cacing berspektrum luas dengan toleransi hospes yang baik. Diberikan satu tablet (100 mg) dua kali sehari selama tiga hari, tanpa melihat umur, dengan menggunakan obat ini sudah dilaporkan beberapa kasus terjadi migrasi ektopik.
2. Pirantel Pamoat.
Dosis tunggal sebesar 10 mg/kg berat badan adalah efektif untuk menyembuhkan kasus lebih dari 90 %. Gejala sampingan, bila ada adalah ringan dan obat ini biasanya dapat diterima (“welltolerated”). Obat ini mempunyai keunggulan karena efektif terhadap cacing kremi dan cacing tambang. Obat berspekturm luas ini berguna di daerah endemik dimana infeksi multipel berbagai cacing Nematoda merupakan hal yang biasa.
3. Levamisol Hidroklorida.
Obat ini agaknya merupakan obat anti-askaris yang paling efektif yang menyebabkan kelumpuhan cacing dengan cepat. Obat ini diberikan dalam dosis tunggal yaitu 150 mg untuk orang dewasa dan 50 mg untuk orang dengan berat badan <10 kg. Efek sampingan lebih banyak dari pada pirantel pamoat dan mebendazol.
4. Garam Piperazin.
Obat ini dipakai secara luas, karena murah dan efektif, juga untuk Enterobius vermicularis, tetapi tidak terhadap cacing tambang. Piperazin sitrat diberikan dalam dosis tunggal sebesar 30 ml (5 ml adalah ekuivalen dengan 750 mg piperazin). Reaksi sampingan lebih sering daripada pirantel pamoat dan mebendazol. Ada kalanya dilaporkan gejala susunan syaraf pusat seperti berjalan tidak tetap (unsteadiness) dan vertigo.
5. Albendazole
Albendazole mempunyai aktivitas anthelmintik yang besar. Selain bekerja terhadap cacing dewasa, Albendazole telah terbukti mempunya aktivitas larvisidal dan ovisidal obat ini secara selektip bekerja menghambat pengambilan glukosa oleh usus cacing dan jaringan dimana larva bertempat tinggal. Akibatnya terjadi pengosongan  cadangan glikogen dalam tubuh parasit yang mana menyebabkan berkurangnya pembentukan adenosine triphosphate (ATP). ATP ini penting untuk reproduksi dan mempertahankan hidupnya, dan kemudian parasit akan mati.1
Spektrum aktivitasnya sangat luas yaitu meliputi Nematoda, Cestoda dan infeksi Echinococcus pada manusia.Jadi, albendaroze aktif terhadap Ascaris lumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichiura, Taenia saginata dan solium strongloides stercoralis, Hymenolepis nana dan diminuta serta Echinococcus granulosus .1
Albendazole merupakan obat yang aman,  hanya sedikit jarang, ditemukan efek samping berupa mulut kering, perasaan tak enak di epigastrium, mual, lemah dan diare. S.C.Jagota (1986) meneliti efikasi Albendazole terhadap soil transmitted helminthiasis dengan dosis 400 mg dosis tunggal dan tinja diperiksa ulang pada minggu ketiga setelah pemberian obat pada penelitian ini diperoleh angka kesembuhan 92.2% untuk Ancylostoma duodenale; 90 5% untuk Trichuris trichiura dan 95.3% untuk Ascaris lumbricoides.1
 Pencegahan
       Perbaikan sanitasi dan kebersihan pribadi serta lingkungan sangat mempunyai arti dalam penanggulangan infeksi cacing ini. Suatu pengalaman oleh E. Kosin pada tahun 1973, yang mana telah dilakukan suatu penelitian kontrol ascariasis di suatu desa di daerah Belawan, Sumatera Utara,yang mana diketahui prevalensi cacinggelang pada anak 85%> setelah pengobatan massal, angka infeksi menurun drastis menjadi 10%. Akan tetapi 3 bulan kemudian, saat anak-anak tersebut diperiksa kembali, diperoleh hasil yang sangat mengejutkan yaitu angka infeksi naik menjadi 100%. Setelah dilakukan penelitian, ternyata cacing yang berhasil dikeluarkan dengan pengobatan tadi tersebar di sembarang tempat dan terjadi pencemaran tanah dengan telur cacing dam ini merupakan sumber infeksi.13
Prognosis
Prognosis sangat baik untuk pengobatan ascariasis tanpa gejala. Dalam beberapa kasus, pengobatan kedua mungkin perlu untuk sepenuhnya menghapus cacing. Hal ini telah dibuktikan secara signifikan mengurangi jumlah komplikasi. Perhatian di negara-negara endemik adalah infeksi ulang yang akan terjadi.11
Pada anak-anak di negara-negara endemik, hasil pengobatan dalam perbaikan ditunjukkan dalam perkembangan kognitif, kinerja sekolah, dan berat badan.
Prognosis baik untuk pasien dengan obstruksi usus parsial yang tidak memiliki toksisitas dan yang nonseptic, asalkan pasien diperlakukan secara awal dengan manajemen konservatif.11



b. Ancylostomiasis & necatoriasis

Infeksi cacing tambang di Indonesia disebabkan oleh cacing nematoda yang hidup melekat pada dinding usus dan menimbulkan perdarahan, yaitu Necator Americanus yang menimbulkan Necatoriasis dan Anchylostoma duodenale yang menimbulkan Anchylostomiasis.1............................................................

Epidemiologi
Manusia adalah satu-satunya Hospes definitive dari necator americanus dan Anchilostoma duodenale ini. Telur yang keluar dari usus penderita akan tumbuh di tanah menjadi larva Rabditiform( tidak infektif ), kemudian berkembang menjadi larva filariform yang infektif yang mampu menembus kulit manusia. 1
Cacing dewasa hidup di usus halus dengan melekatkan diri menggunakan giginya.1
Larva filariform beredar di aliran darah sebelum tumbuh menjadi cacing dewasa yang hidup di usus halus.

Diagnosis
Gejala klinis dapat ditimbulkan baik oleh cacing dewasa ataupun larvanya. Cacing dewasa mengisap darah penderita. Seekor cacing Necator Americanus menimbulkan kehilangan darah sekitar 0,1 cc perhari, sedangkan seekor cacing Anchylostoma duodenale menimbulkan kehilangan darah sampai 0,34 cc perhari. 13
Larva cacing menimbulkan dermatitis pada waktu menembus kulit penderita dan menimbulkan alergi pada waktu beredar di dalam darah.

Gejala klinis
1.   Anemia mikrositik hipokrom
2.   Gambaran umum kekurangan darah seperti pucat, perut buncit, rambut kering dan mudah lepas.
3.   Rasa tak enak di epigastrium
4.   Sembelit, diare
5.   Ground-itch (gatal kulit di tempat masuknya larva cacing )
6.   Gejala bronkhitis ( batuk, kadang-kadang berdarah ). 7

Diagnosis banding
1.       Askariasis
2.       Trikuriasis
3.       Tuberulosis

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan mikroskopis terhadap tinja untuk menemukan telur cacing. Pemeriksaan darah menunjukkan gambaran :
1.   Hemoglobin menurun
2.   MCHC <31-36 gr/dl
Pada apusan darah didapatkan
1.   hipokrom mikrositer
2.   leukopeni
3.   eosinofilier sekitar 30%
4.   anisositosis atau poikilositosis. 1

Pengobatan
1.   terapi anemia menggunakan preparat besi diberikan secara oral maupun parenteral
2.   obat cacing yang dapat diberikan peroral :
a.    Pirantel Pamoat 10 mg/kg BB sebagai dosis tunggal
b.   Oxantel Pamoat 10-20 mg/kg BB sebagai dosis tunggal
c.    Mebendazol 2 x 100 mg/hari , diberikan 3 hari berturut-turut
d.   Levamisol diberikan sebagai dosis tunggal. Pada orang dewasa diberikan 150mg, sedangkan dosis anak 25 mg/kg BB. 1

Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya infeksi baru atau reinfeksi dilakukan pengobatan massal dan perorangan dengan obat cacing
Pendidikan kesehatan dengan membuat jamban yang baik dan selalu berjalan di tanah menggunakan alas kaki. 1

Prognosis
Dengan pengobatan yang adekuat meskipun telah terjadi komplikasi, prognosisnya akan tetap baik.






















REFERENSI
1.    Sudarmo,SS.Garna Herry. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit Tropis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2.    Kedokteran Tropis. Soedarto. Airlangga University Press. Surabaya : 2007. Halaman 77-79.
3.    Kerwin MLE. Empirically Supported Treatment in Pediatric Psychology. Journal of Pedoatric Pyschology.1999; 24 (3): 193-214
4.    Markum, H.M.s. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI. 2005
5.    Swartz, Mark H. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC. 1995
6.    Sudoyo, W. Ari; dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :         Interna Publishing. 2009
7.    World Health Organization (WHO). Water related diseases: Ascariasis. Communicable Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH) Available at URL: http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/ ascariasis/en/. Accessed on Dec 2014
8.    Mardiana and Djarismawati. Helminthiosis Prevalence Among Compulsory Learning of Public School Children In The Slum Areas Of Poverty Elimination Integrated Program in Jakarta Province. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No. 2, Agustus 2008 : 769 – 774.
9.    Haburchak, David R. Ascariasis.  Division of Infectious Disease, Medical College of Georgia.  Available at URL: http://emedicine.medscape.com/ article/212510-overview. Accessed on Dec 2014.
10. Shoff, William H. Pediatric Ascariasis.  Department of Emergency Medicine, Hospital of the University of Pennsylvania.  Available at URL: http://emedicine.medscape.com/article/996482-overview Accessed on Dec 2014.
11.  Syamsu, Yohandromeda. Ascariasis, Respons IgE dan Upaya Penanggulangannya. Program Studi Imunologi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.
12. Soedarto, 1995. Helmintologi Kedokteran. Edisi ke 2. EGC. Jakarta.
13. Jagota SC, 1986. Albendazole, a Broad Spectrum Anthelmintic, in the Treatment of Intenstinal Nematode and Cestode Infection: A Multicenter Study in 460 Patients. Clin.Ther ; 8 : 226-231, 1986.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar