A. SKENARIO
C.................................................................................................
Seorang anak perempuan berusia 8 tahun diantar ibunya ke Puskesmas dengan keluhan anak tampak lesu. Si anak malas makan dan Berat Badan kurang dari normal tetapi perut tampak agak buncit. Pada pemeriksaan fisis kuku terlihat panjang dan hitam, bising usus sangat ramai dan nyaring. Pemeriksaan laboratorium feses didapatkan telur yang dibuahi. Menurut ibunya, si anak suka bermain tanah dan kebiasaan menggigit kukunya.
Seorang anak perempuan berusia 8 tahun diantar ibunya ke Puskesmas dengan keluhan anak tampak lesu. Si anak malas makan dan Berat Badan kurang dari normal tetapi perut tampak agak buncit. Pada pemeriksaan fisis kuku terlihat panjang dan hitam, bising usus sangat ramai dan nyaring. Pemeriksaan laboratorium feses didapatkan telur yang dibuahi. Menurut ibunya, si anak suka bermain tanah dan kebiasaan menggigit kukunya.
B. KATA SULIT
C. KALIMAT KUNCI
Ø Perempuan 8 tahun
Ø Tampak lesu
Ø Malas
makan dan berat badan menurun
Ø Perut
tampak buncit
Ø Pemeriksaan fisi kuku terlihat panjang dan
hitam
Ø Bising
usus sangat ramai dan nyaring
Ø Feses
didapatkan telur yang dibuahi
Ø Anak
suka main tanah
Ø Mempunyai kebiasaan mengginggit kukunya
D. PERTANYAAN
1. Mengapa anak tersebut tampak lesu?
2. Bagaimana daur hidup parasit pada skenario ?
3. Patomekanisme terjadinya bising usus ?
4. Jelaskan hubungan
gejala dan kebiasaan pada anak tersebut ?
5. Jelaskan langkah-langkah diagnosis ?
6. Differensial diagnosis
a. Ascariasis
b. Ancylostomiasis & necatoriasis
E.
JAWABAN
1. Mengapa anak tersebut tampak lesu?
Jawab
:
Oleh karena kurangnya gizi tubuh tetntunya akan berdampak pada kurangnya
energi untuk beraktivitas. Hal ini bisa menyebabkan anak menjadi lemas dan lesu
disamping juga dapat disebabkan karena anemia yang sering terjadi pada
cacingan.
Anemia yang terjadi pada infeksi cacing dapat terjadi karena cacing
menghisap darah dalam tubuh sekitar 2-100 cc per hari. Jumlah kehilangan darah ini
jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama (kronis) akan berdampak pada
timbulnya anemia. Anemia yang terjadi akibat infeksi cacing tergolong anemia
defisiensi besi terkait hilangnya simpanan besi tubuh yang hilang bersama
darah. Gejala anemia dapat berupa badan lemas, lesu dan mudah lelah. Indikasi
yang mudah dilihat adalah gambaran pucat pada telapak tangan atau konjungtiva
mata.1
2. Bagaimana daur hidup parasit pada skenario ?
Jawab
:
Cacing dewasa menghasilkan telur-telur yang akan matang di
tanah, saat telur ini tertelan, larvanya akan melubangi dinding usus, bergerak
ke hati, jantung dan/atau paru-paru. Sesaat di dalam
paru-paru, larva berganti kulit, setelah sepuluh hari bermigrasi lewat saluran
udara ke kerongkongan tempat dimana mereka akan tertelan. Kemudian adapula masuk kedalam
saluran pencernaan, Dalam usus kecil cacing
dewasa kawin dan betinanya menimbun telur-telur yang akan dilepaskan keluar
bersama feses. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini
membuang tinjanya tidak pada tempatnya.2
Pada
scenario pasien anak perempuan tersebut sebelumnya harus ditegakkan diagnosis
dengan melakukan pemeriksaan feses terdapat telur yang telah dibuahi. Apakah
anak tersebut fesesnya merupakan telur dari Enterobiasis, Necatoriasis
atau anchilostomiasis.
3. Patomekanisme terjadinya bising usus ?
Jawab
:
Akibat dari aktivitas cacing yang ada pada usus
halus dan gerakan peristaltik yang meningkat pada usus.3
Bising usus yang ramai & nyaring terjadi
karena cacing yang menginfeksi usus menyebabkan iritasi pada mukosa usus
sehingga menyebabkan gerakan peristaltik usus meningkat sebagai kompensasi
tubuh agar tidak kehilangan banyak sari makanan yang telah dicerna sebelumnya.3
4. Jelaskan
hubungan gejala dan kebiasaan pada anak tersebut ?
Jawab :
Kehilangan nafsu makan dan BB turun,
Nafsu makan yang hilang diakibatkan oleh toksin
yang dikeluarkan oleh cacing dewasa di usus halus. Nafsu makan pada umumnya
dikontrol oleh pusat kepuasan yang terletak di hipotalamus
medius dan lateralis. Hipotalamus juga
mengontrol pusat dibawahnya, terletak dibatang otak yang bertanggung jawab untuk salivasi,
pengunyahan, dan penelanan Sedangkan pusat diatas hipotalamus bertanggung jawab
terhadap apatis (keinginan untuk makan suatu macam makanan tertentu). Mekanisme
untuk menentukan macam makanan ditentukan oleh memori penglihatan, pengecapan, penciuman dan perabaan. Mengutarakan
bahwa anoreksia dan penurunan berat badan sering menyertai gejala infeksi/inflamasi.
Beberapa sitokin yang terbukti menyebabkan anoreksia, yaitu IL-1, IL-6, IL-8,
dan IFN γ.Sitokin dilepaskan sebagai
reaksi terhadap kejadian infeksi atau inflamasi yang berpengaruh secara langsung
terhadap otak sehingga menyebabkan anoreksia. Jadi, secara tidak langsung, saat nafsu makan pada anak kurang karena
salah satu faktornya yakni infeksi atau inflamasi maka asupan gizi yang masuk
kedalam tubuh juga berkurang sehingga terjadi penurunan berat badan.3
Perut buncit,
abdomen yang buncit bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yakni malnutrisi
dan obstruksi usus oleh cacing.
Malnutrisi,
pada anak dengan nafsu makan yang kurang akan mempengaruhi asupan gizi
yangkurang pula. Salah satunya adalah berkurangnya protein dan zat besi yang
masuk kedalam tubuh.Kurangnya zat besi dalam tubuh, dapat mempengaruhi
pembentukan Hemoglobin (Hb) yang merupakan komponen pembentuk albumin selain
protein. Albumin yang berfungsi untuk menyeimbangkan osmolaritas cairan
atau untuk retensi cairan berkurang sehingga penarikan cairan dari
ekstravaskuler kedalam intravaskuler juga berkurang sehingga pada anak ini pada
abdomennya tampak buncit
Di dalam tubuh nantinya telur ataupun larva cacing akan menetas
dan berkembang menjadi cacing dewasa dan hidup dalam usus. Cacing yang
bersifat parasit ini akan bersaing dengan tubuh untuk mendapatkan
makanan. Sari-sari makanan dalam usus akan ‘direbut’ oleh cacing sehingga
tubuh pun kekurangan zat gizi. Meskipun makan dalam jumlah yang cukup,
jika zat nutrisi yang masuk direbut oleh cacing tentunya keterpenuhan
gizi tubuh akan tetap kurang
5. Jelaskan langkah-langkah diagnosis ?
Jawab :
A. Anamnesis4,5
a.
Identitas : Nama, umur, jenis
kelamin, suku, agama, status perkawinan, pekerjaan dan alamat rumah
b. Riwayat Penyakit
Sekarang
I. Keluhan utama
i. Sejak kapan
ii. Kronologi/urutan waktu
iii.
Deskripsi gejala atau keluhan yang ada pada pasien : Lamanya, onsetnya
(mendadak, atau mengangsur), faktor pencetus, gejala yang menyertai yang
diperkirakan berhubungan.
iv.
Gejala lain yang dirasakan : Nyeri, mual dan atau muntah, perubahan BAB,
pendarahan rectum, Ikterus, Distensi abdomen, Massa, pruritus, gatal
II.
Anamnesis sistem yang lain
Kepala, Mata Telinga, Hidung,
Mulut, Tenggorokan, Leher, Jantung dan paru-paru, Lambung dan usus, Alat
kelamin, Haid, Saraf dan otot, Kejiwaan, Berat badan
a. Riwayat
penyakit dahulu
b. Riwayat
Keluarga
B.
Pemeriksaan Fisik4,5
Pasien harus berbaring
lurus di tempat tidur. Tangan berada di sisi tubuh. Setelah itu dilakukan :
a. Inspeksi
I. Evaluasi penampilan umum
Sering memberi
informasi yang berharga. Contohnya pada pasien dengan kolik ginjal atau empedu,
akan benar-benar terlihat menggeliat di tempat tidur karena tidak dpaat
menemukan posisi yang aman.
Sebaliknya, peritonitis
yang nyeri hebat kalau bergerak, jadi secara khas, pasien hanya terdiam dna
biasanya lutut ditarik ke atas untuk membantu relaksasi otot perut dan
mengurangi tekanan intra abdomen.
II. Menentukan
frekuensi pernafasan
Pernafasan meningkat
pada pasien dengan peritonitis generalisata, pendarahan abdomen atau obstruksi
usus
III. Inspeksi Kulit
Lihat apakah adanya warna kuning yang tampak
(ikterus).
IV. Inspeksi Tangan
Lihat apakah ada
otot-otot yang mengecil, dan juga melihat perubahan dari warna dan bentuk kuku
V. Inspeksi Wajah
Perhatikan warna dan
mukosa dari wajah. Contohnya, ketika terdapat endapan melanin, berarti mengarah
kepaa syndrome Peutz Jeghers; Telangiektasis pada bibir dan lidah mengarah pada
sindrome Osler Weber rendu. Telangiektasi dapat berdarah secara tidak kentara,
sehinggan menyebabkan anemia.
VI.
Inspeksi abdomen
Perhatikan apa yang
terdapat pada abdomen, apakah ada ketidaksimetrisan, distensi, massa, atau
gelombang peristaltik yang dapat dilihat. Lihat juga apakah umbilikus alami
eversi, dimana itu menandakan bahwa tekanan intra abdomen meningkat. Dan
perhatikan juga tanda lainnya
VI. Inspeksi hernia
Pasiennya disuruh
batuk, kemudian pemeriksa melihat pada daerah inguinal, umbilikal dan femoral
karena apabila terjadi penonjolan pada daerah ini, mungkin pasien mengalami
hernia.
b. Auskultasi
Auskultasi dilakukan
diluan karena akan mengubah motilitas dari usus, sehingga akan mengubah hasil
yang didapat nantinya.
Bunyi yang didengar
adalah bunyi usus di mana tiap 5-10 detik akan bernada tinggi. Apabila
terdengar bunyi bruit, maka itu biasanya terjadi pada orang yang menderita stenisis
arteri renalis atau aorta abdomminal.
c. Perkusi
Untuk memperlihatkan
adanya distensi dari gas, cairan atau massa padat. Bunyi yang normal ditemukan yaitu tymphani,
dan daerah pekak pada bagian hepar.
d. Palpasi
Biasanya dibagi menjadi
2 : Palpasi ringan dan alpasi dalam. Kita melihat apakah ada nyeri pada saat
palpasi
C. Pemeriksaan
Penunjang6
Dilakukan pengambilan
spesimen berupa feses (larva/ telur/ cacing) dan darah (eosinofil).
7. Differensial diagnosis
a. Ascariasis
Definisi
Askariasis
adalah suatu infeksi pada usus kecil yang disebabkan oleh suatu jenis cacing
besar, Ascaris lumbricoides.7
Ascaris
lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus
halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan
keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat
sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan penyerapan makanan.12
Cacing ini merupakan parasit yang
kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah
beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik derajat infeksi dapat
mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 – 10
tahun sebagai host (penjamu) yang
juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi. Cacing dapat mempertahankan posisinya
didalam usus halus karena aktivitas
otot-otot ini. Jika otot-otot somatik di lumpuhkan
dengan obat-obat antelmintik,
cacing akan dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal.12

Gambar Cacing Ascaris Lumbicoides dewasa.10
Epidemologi
Penyakit Ascariasis dapat ditemukan di
seluruh dunia. Infeksi terjadi dengan frekuensi terbesar di daerah tropis dan
subtropis, dan di setiap daerah dengan sanitasi yang tidak memadai. Ascariasis
adalah salah satu infeksi parasit pada manusia yang paling umum. Sampai dengan
10% dari penduduk negara berkembang terinfeksi cacing – dengan persentase besar
disebabkan oleh Ascaris. Di seluruh dunia, infeksi Ascaris
menyebabkan sekitar 60.000 kematian per tahun, terutama pada anak.7
Prevalensi tertinggi ascariasis adalah pada
anak usia 2-10 tahun, dengan
intensitas infeksi tertinggi terjadi pada anak usia 5-15
tahun yang memiliki infeksi simultan dengan cacing
lain seperti Trichuris trichiura dan cacing tambang. Sebuah
studi terbaru menemukan bahwa wanita
dewasa Vietnam yang tinggal di
daerah pedesaan, terutama yang
terkena tanah pada malam hari dan tinggal di rumah tangga tanpa jamban,
beresiko sangat tinggi untuk ascariasis. Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa tingkat ascariasis di seluruh dunia pada 2005 adalah sebagai berikut: 86 juta kasus
di Cina, 204 juta di tempat lain di Asia Timur dan Pasifik, 173 juta di
sub-Sahara Afrika, 140 juta
di India, 97 juta di tempat lain di Asia Selatan, 84 juta dalam bahasa Latin Amerika dan Karibia, dan
23 juta di Timur Tengah
dan Afrika Utara.10
Etiologi
dan Patofisiologi
Seseorang dapat terinfeksi penyakit askariasis
setelah secara tidak sengaja atau tidak disadari menelan telur cacing. Telur
menetas menjadi larva di dalam usus seseorang. Larva menembus dinding usus dan
mencapai paru-paru melalui aliran darah. Larva tersebut akhirnya kembali ke
tenggorokan dan tertelan. Dalam usus, larva berkembang menjadi cacing dewasa.
Cacing betina dewasa yang dapat tumbuh lebih panjang mencapai 30 cm, dapat
bertelur yang kemudian masuk ke dalam tinja. Jika tanah tercemar kotoran manusia
atau hewan yang mengandung telur, maka siklus tersebut dimulai lagi. Telur
berkembang di tanah dan menjadi infektif setelah masa 2-3 minggu, tetapi dapat
tetap infektif selama beberapa bulan atau tahun.7
Manusia merupakan
satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang
infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan
larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang
kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya
melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama
sekitar 15 hari. Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2
kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva
masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke
osepagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglottis masuk
kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian
atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa
kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.11
Siklus hidup cacing
ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama
terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000 – 250.000 butir
telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 – 4 minggu untuk tumbuh
menjadi bentuk infektif. Menurut penelitian stadium ini merupakan stadium
larva, dimana telur tersebut keluar bersama tinja manusia dan diluar akan
mengalami perubahan dari stadium larva I sampai stadium III yang bersifat
infektif.11
Telur-telur ini tahan
terhadap berbagai desinfektan dan dapat tetap hidup bertahun-tahun di tempat
yang lembab. Didaerah hiperendemik, anak-anak terkena infeksi secara
terus-menerus sehingga jika beberapa cacing keluar, yang lain menjadi dewasa
dan menggantikannya. Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup
selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimanamana, menyebar melalui
tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang
mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing
akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing
ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak
ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.11

Gambar Siklus Hidur Askaris12
Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala awal ascariasis, selama migrasi paru awal, termasuk
batuk, dyspnea, mengi, dan nyeri dada.
Nyeri perut, distensi, kolik, mual, anoreksia, dan diare
intermiten mungkin manifestasi dari obstruksi usus parsial atau lengkap oleh
cacing dewasa. Penyakit kuning, mual, muntah, demam, dan nyeri perut berat mungkin mengarah pada kolangitis, pankreatitis, atau apendisitis.3
Mengi dan takipnea dapat terjadi selama migrasi paru. Urtikaria dan
demam mungkin juga terjadi
terlambat dalam tahap migrasi.
Distensi abdomen tidak spesifik tetapi
adalah umum pada anak dengan ascariasis. Nyeri perut, terutama di kuadran kanan atas, hypogastrium, atau kuadran kanan bawah, mungkin mengindikasikan komplikasi ascariasis. Bukti untuk kekurangan gizi karena ascariasis paling kuat untuk
vitamin A dan C, serta protein,
seperti ditunjukkan oleh penelitian albumin
dan pertumbuhan pada anak yang
diamati secara prospektif. Beberapa
penelitian belum mengkonfirmasi keterlambatan
perkembangan gizi atau karena ascariasis.10
Kelainan-kelainan yang
terjadi pada tubuh penderita terjadi akibat pengaruh migrasi larva dan adanya
cacing dewasa. Pada umumnya orang yang kena infeksi tidak menunjukkan gejala,
tetapi dengan jumlah cacing yang cukup besar (hyperinfeksi) terutama pada
anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi, selain itu cacing itu sendiri dapat
mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi
gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan tanda alergi seperti
urtikaria, odema diwajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas.12,13
Cacing dewasa dapat
pula menimbulkan berbagai akibat mekanik seperti obstruksi usus, perforasi
ulkus diusus. Oleh karena adanya migrasi cacing ke organ-organ misalnya ke
lambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus dapat menyumbat pernapasan
penderita. Ada kalanya askariasis menimbulkan manifestasi berat dan gawat dalam
beberapa keadaan sebagai berikut:
1.
Bila sejumlah besar cacing menggumpal
menjadi suatu bolus yang menyumbat rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen
akut.
2.
Pada migrasi ektopik dapat menyebabkan
masuknya cacing kedalam apendiks, saluran empedu (duktus choledocus) dan ductus
pankreatikus.12,13
Bila cacing masuk ke
dalam saluran empedu, terjadi kolik yang berat disusul kolangitis supuratif dan
abses multiple. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan cacing dewasa
dalam tinja atau muntahan penderita dan telur cacing dengan bentuk yang khas
dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairan empedu penderita melalui
pemeriksaan mikroskopik.5,6
Penatalaksanaan
Edukasi
kesehatan memberikan pesan berikut akan mengurangi jumlah orang yang terinfeksi
penyakit askariasis:1
-
menghindari kontak dengan tanah yang
mungkin terkontaminasi kotoran manusia;
-
mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum mengambil makanan;
-
mencuci, mengupas atau memasak semua
sayuran mentah dan buah-buahan;
-
melindungi makanan dari tanah dan
mencuci atau memanaskan makanan apapun yang jatuh di lantai.
Ketersediaan
air yang digunakan untuk personal
hygiene serta tempat pembuangan kotoran yang sehat juga akan
mengurangi jumlah kasus. Dimana limbah digunakan untuk irigasi kolam
stabilisasi sampah dan beberapa teknologi lainnya yang efektif dalam penurunan
transmisi akibat makanan tumbuh di tanah yang terkontaminasi.7
Pada
waktu yang lalu obat yang sering dipakai seperti : piperazin, minyak
chenopodium, hetrazan dan tiabendazol. Oleh karena obat tersebut menimbulkan
efek samping dan sulitnya pemberian obat tersebut, maka obat cacing sekarang
ini berspektrum luas, lebih aman dan memberikan efek samping yang lebih kecil
dan mudah pemakaiannya. 12,13
Adapun obat yang
sekarang ini dipakai dalam pengobatan adalah:7, 9,11,12
1. Mebendazol.
Obat ini adalah obat
cacing berspektrum luas dengan toleransi hospes yang baik. Diberikan satu
tablet (100 mg) dua kali sehari selama tiga hari, tanpa melihat umur, dengan
menggunakan obat ini sudah dilaporkan beberapa kasus terjadi migrasi ektopik.
2. Pirantel Pamoat.
Dosis tunggal sebesar
10 mg/kg berat badan adalah efektif untuk menyembuhkan kasus lebih dari 90 %.
Gejala sampingan, bila ada adalah ringan dan obat ini biasanya dapat diterima
(“welltolerated”). Obat ini mempunyai keunggulan karena efektif terhadap cacing
kremi dan cacing tambang. Obat berspekturm luas ini berguna di daerah endemik
dimana infeksi multipel berbagai cacing Nematoda merupakan hal yang biasa.
3. Levamisol
Hidroklorida.
Obat ini agaknya
merupakan obat anti-askaris yang paling efektif yang menyebabkan kelumpuhan
cacing dengan cepat. Obat ini diberikan dalam dosis tunggal yaitu 150 mg untuk
orang dewasa dan 50 mg untuk orang dengan berat badan <10 kg. Efek sampingan
lebih banyak dari pada pirantel pamoat dan mebendazol.
4. Garam Piperazin.
Obat ini dipakai secara
luas, karena murah dan efektif, juga untuk Enterobius vermicularis, tetapi
tidak terhadap cacing tambang. Piperazin sitrat diberikan dalam dosis tunggal
sebesar 30 ml (5 ml adalah ekuivalen dengan 750 mg piperazin). Reaksi sampingan
lebih sering daripada pirantel pamoat dan mebendazol. Ada kalanya dilaporkan
gejala susunan syaraf pusat seperti berjalan tidak tetap (unsteadiness) dan
vertigo.
5.
Albendazole
Albendazole mempunyai aktivitas
anthelmintik yang besar. Selain bekerja terhadap cacing dewasa, Albendazole
telah terbukti mempunya aktivitas larvisidal dan ovisidal obat ini secara
selektip bekerja menghambat pengambilan glukosa oleh usus cacing dan jaringan
dimana larva bertempat tinggal. Akibatnya terjadi pengosongan cadangan glikogen dalam tubuh parasit yang
mana menyebabkan berkurangnya pembentukan adenosine triphosphate (ATP). ATP ini
penting untuk reproduksi dan mempertahankan hidupnya, dan kemudian parasit akan
mati.1
Spektrum aktivitasnya
sangat luas yaitu meliputi Nematoda, Cestoda dan infeksi Echinococcus pada
manusia.Jadi, albendaroze aktif terhadap Ascaris lumbricoides, cacing tambang,
Trichuris trichiura, Taenia saginata dan solium strongloides stercoralis,
Hymenolepis nana dan diminuta serta Echinococcus granulosus .1
Albendazole merupakan
obat yang aman, hanya sedikit jarang,
ditemukan efek samping berupa mulut kering, perasaan tak enak di epigastrium,
mual, lemah dan diare. S.C.Jagota (1986) meneliti efikasi Albendazole terhadap
soil transmitted helminthiasis dengan dosis 400 mg dosis tunggal dan tinja
diperiksa ulang pada minggu ketiga setelah pemberian obat pada penelitian ini
diperoleh angka kesembuhan 92.2% untuk Ancylostoma duodenale; 90 5% untuk
Trichuris trichiura dan 95.3% untuk Ascaris lumbricoides.1
Pencegahan
Perbaikan
sanitasi dan kebersihan pribadi serta lingkungan sangat mempunyai arti dalam
penanggulangan infeksi cacing ini. Suatu pengalaman oleh E. Kosin pada tahun
1973, yang mana telah dilakukan suatu penelitian kontrol ascariasis di suatu
desa di daerah Belawan, Sumatera Utara,yang mana diketahui prevalensi
cacinggelang pada anak 85%> setelah pengobatan massal, angka infeksi menurun
drastis menjadi 10%. Akan tetapi 3 bulan kemudian, saat anak-anak tersebut
diperiksa kembali, diperoleh hasil yang sangat mengejutkan yaitu angka infeksi
naik menjadi 100%. Setelah dilakukan penelitian, ternyata cacing yang berhasil
dikeluarkan dengan pengobatan tadi tersebar di sembarang tempat dan terjadi
pencemaran tanah dengan telur cacing dam ini merupakan sumber infeksi.13
Prognosis
Prognosis sangat baik untuk pengobatan ascariasis
tanpa gejala. Dalam beberapa kasus, pengobatan kedua mungkin perlu untuk
sepenuhnya menghapus cacing. Hal ini telah dibuktikan secara signifikan
mengurangi jumlah komplikasi. Perhatian di negara-negara endemik adalah infeksi
ulang yang akan terjadi.11
Pada anak-anak di negara-negara endemik, hasil
pengobatan dalam perbaikan ditunjukkan dalam perkembangan kognitif, kinerja
sekolah, dan berat badan.
Prognosis baik untuk pasien dengan obstruksi usus parsial yang tidak memiliki toksisitas dan yang nonseptic, asalkan pasien diperlakukan secara awal dengan manajemen konservatif.11
Prognosis baik untuk pasien dengan obstruksi usus parsial yang tidak memiliki toksisitas dan yang nonseptic, asalkan pasien diperlakukan secara awal dengan manajemen konservatif.11
b. Ancylostomiasis & necatoriasis
Infeksi
cacing tambang di Indonesia disebabkan oleh cacing nematoda yang hidup melekat
pada dinding usus dan menimbulkan perdarahan, yaitu Necator Americanus yang
menimbulkan Necatoriasis dan Anchylostoma duodenale yang menimbulkan
Anchylostomiasis.1............................................................
Epidemiologi
Manusia
adalah satu-satunya Hospes definitive dari necator americanus dan Anchilostoma
duodenale ini. Telur yang keluar dari usus penderita akan tumbuh di tanah
menjadi larva Rabditiform( tidak infektif ), kemudian berkembang menjadi larva
filariform yang infektif yang mampu menembus kulit manusia. 1
Cacing
dewasa hidup di usus halus dengan melekatkan diri menggunakan giginya.1
Larva
filariform beredar di aliran darah sebelum tumbuh menjadi cacing dewasa yang
hidup di usus halus.
Diagnosis
Gejala
klinis dapat ditimbulkan baik oleh cacing dewasa ataupun larvanya. Cacing
dewasa mengisap darah penderita. Seekor cacing Necator Americanus menimbulkan
kehilangan darah sekitar 0,1 cc perhari, sedangkan seekor cacing Anchylostoma
duodenale menimbulkan kehilangan darah sampai 0,34 cc perhari. 13
Larva
cacing menimbulkan dermatitis pada waktu menembus kulit penderita dan
menimbulkan alergi pada waktu beredar di dalam darah.
Gejala klinis
1. Anemia
mikrositik hipokrom
2. Gambaran
umum kekurangan darah seperti pucat, perut buncit, rambut kering dan mudah
lepas.
3. Rasa
tak enak di epigastrium
4. Sembelit,
diare
5. Ground-itch
(gatal kulit di tempat masuknya larva cacing )
6. Gejala
bronkhitis ( batuk, kadang-kadang berdarah ). 7
Diagnosis banding
1. Askariasis
2. Trikuriasis
3. Tuberulosis
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
mikroskopis terhadap tinja untuk menemukan telur cacing. Pemeriksaan darah
menunjukkan gambaran :
1.
Hemoglobin menurun
2.
MCHC <31-36 gr/dl
Pada
apusan darah didapatkan
1.
hipokrom mikrositer
2.
leukopeni
3.
eosinofilier sekitar 30%
4.
anisositosis atau poikilositosis. 1
Pengobatan
1.
terapi anemia menggunakan preparat besi
diberikan secara oral maupun parenteral
2.
obat cacing yang dapat diberikan peroral
:
a.
Pirantel Pamoat 10 mg/kg BB sebagai
dosis tunggal
b.
Oxantel Pamoat 10-20 mg/kg BB sebagai
dosis tunggal
c.
Mebendazol 2 x 100 mg/hari , diberikan 3
hari berturut-turut
d.
Levamisol diberikan sebagai dosis tunggal.
Pada orang dewasa diberikan 150mg, sedangkan dosis anak 25 mg/kg BB. 1
Pencegahan
Untuk
mencegah terjadinya infeksi baru atau reinfeksi dilakukan pengobatan massal dan
perorangan dengan obat cacing
Pendidikan
kesehatan dengan membuat jamban yang baik dan selalu berjalan di tanah
menggunakan alas kaki. 1
Prognosis
Dengan
pengobatan yang adekuat meskipun telah terjadi komplikasi, prognosisnya akan
tetap baik.
REFERENSI
1. Sudarmo,SS.Garna Herry. 2002. Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit Tropis. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
2. Kedokteran Tropis. Soedarto. Airlangga University
Press. Surabaya : 2007. Halaman 77-79.
3. Kerwin
MLE. Empirically Supported Treatment in Pediatric Psychology. Journal
of Pedoatric Pyschology.1999; 24 (3): 193-214
4.
Markum, H.M.s. Anamnesis dan Pemeriksaan
Fisis. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI. 2005
5.
Swartz, Mark H. Buku Ajar Diagnostik
Fisik. Jakarta : EGC. 1995
6.
Sudoyo, W. Ari; dkk. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : Interna
Publishing. 2009
7. World
Health Organization (WHO). Water related diseases: Ascariasis. Communicable
Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH) Available at URL: http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/
ascariasis/en/. Accessed on Dec 2014
8. Mardiana
and Djarismawati. Helminthiosis Prevalence Among Compulsory Learning of
Public School Children In The Slum Areas Of Poverty Elimination Integrated
Program in Jakarta Province. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No. 2, Agustus
2008 : 769 – 774.
9. Haburchak,
David R. Ascariasis. Division of
Infectious Disease, Medical College of Georgia.
Available at URL: http://emedicine.medscape.com/
article/212510-overview. Accessed on Dec 2014.
10. Shoff, William H. Pediatric Ascariasis. Department of Emergency Medicine,
Hospital of the University of Pennsylvania.
Available at URL: http://emedicine.medscape.com/article/996482-overview
Accessed on Dec 2014.
11. Syamsu,
Yohandromeda. Ascariasis, Respons IgE dan Upaya Penanggulangannya.
Program Studi Imunologi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.
12. Soedarto, 1995. Helmintologi Kedokteran. Edisi ke 2. EGC.
Jakarta.
13. Jagota
SC, 1986. Albendazole, a Broad Spectrum Anthelmintic, in the Treatment of
Intenstinal Nematode and Cestode Infection: A Multicenter Study in 460
Patients. Clin.Ther ; 8 : 226-231, 1986.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar