A. Skenario
Laki – laki
berusia 39 tahun datang ke poliklinik dengan plak dan bintik merah pada wajah,
da leher sejak sebulan yang lalu. Keluhan tampak makin merah jika terkena
sengatan matahari dan kadang disertai gatal. Sudah berobat ke puskesmas dan
diberi obat tetrasiklin dan kloroquin tetapi belum sembuh namun keluhan sedikit
berkurang. Pada pemeriksaan fisis ditemukan papil, postula dan plak eritema
kedua pipi serta pelebaran pembuluh darah disekitar hidung. Keluhan semakin
hebat seiring dengan bertambahnya usia penderita dan stres. Riwayat keluarga
yakni adik kandung dengan keluhan yang sama.
B. Kata sulit
1. Papul : Tonjolan lesi pada kulit yang
kecil, berbatas tegas, dan padat.1
2. Pustula : Lesi kulit yang kecil, menonjol,
berbatas, dan mengandung nanah.1
3. Eritemia : Kemerahan pada kulit yang dihasilkan
oleh kongesti pembuluh kapiler.1
4. Tetrasiklin : Antibiotik dengan spektrum aktivitas anti
mikroba yang luas.1
5. Kloroquin : derivate 4-aminokuinolon yang merupakan
senyawa difosfat, bentuk bubuk putih yang pahi dan larut dalam air sera stabil1
C. Kalimat kunci
1.
Laki-laki 39 tahun
Keluhan
umum : plak dan bintik merah pada wajah dan leher
2.
Makin merah jika terkena sengatan matahari
3.
Kadang disertai gatal
4.
Diberi obat tetrasiklin dan kloroquin, tidak sembuh
5.
Pemeriksaan fisik : papul, postula, eritema kedua pipi
6.
Dilatasi vaskuler disekitar hidung
7.
Makin hebat dengan bertambahnya usia dan stress
8.
Riwayat keluarga adik kandung
D. Pertanyaan
1.
Bagaimana anatomi, histoloi, dan fisiologi dari kulit ?
2.
Sebutkan dan jelaskan Bentuk" umum dari penyakit kulit ?
3.
Etiologi umum penykit kulit ?
4.
Patomekanisme dari :
a. papul
b. postula
c. eritema
5.
Pada skenario mengapa lesi terjadi pada wajah dan leher ?
6.
Mengapa bintik merah kadang disertai gatal ?
7.
apa kah ada pengaruh usia dan stress pda pasien tersebut ? jelaskan !
8.
jelaskan farmakodinamik dan farmakokinetik dari tetrasiklin & klorokuin ?
9.
Differensial Diagnosis ?
1. Bagaimana
anatomi, histologi, dan fisiologi dari kulit ?
Jawab
:
Pembagian kulit secara garis besar
tersusun atas tiga lapisan utama yaitu :
1. Lapisan epidermis atau kutikel
2. Lapisan dermis (korium kutis
vera, true skin)
3. Lapisan subkutis(hipodermis)
Tidak
ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis,subkutis ditandai dengan
adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak.2
1. Lapisan epidermis
terdiri atas : stratum korneum,
stratum lusidum stratum granulosm, stratum spinosum dan starum basale.
Stratum korneum (lapisan
tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis
sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah
menjadi keratin (zat tanduk)
Stratum lusidum terdapat
langsung dibawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti
dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. lapisan
tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.
Staratum granulosum (lapisan
keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma
berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri
atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak punya lapisan ini. Stratum granuloum
juga tampak jelas di telapak tangan dan kaki.
Stratum spinosum (staratum
malphigi) atau disebut pula prickle cell layer (lapisan
akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya
berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak
mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat
dengan permukaan makin gepeng bentuknya. diantara sel-sel spinosum terdapat
jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau
keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil
yang disebut nodulus bizzozero. Diantara sel-sel spinosum terdapat pula sel
langerhans. Sel-sel stratum spinosum mengandung banyak glikogen.
Staratum basale terdiri
atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan
dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan
berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu:
a. Sel-sel
yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar,
dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel.
b. Sel
pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel-sel berwarna muda,
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen
(melanosomes).2
2. Lapisan dermis adalah
lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini
terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan
folikel rambut.secara garis besar dibagi dalam dua bagi
an yaitu:
a. Pars papilare, yaitu
bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh
darah.
b. Pars retikulare,
yaitu bagian dibawahnya yang menonjol kearah subkutan, bagian ini terdiri atas
serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin.
Dasar (matriks) lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan
kondroitin sulfat, dibagian ini terdat pula fibroblas, membentuk ikatan
(bundel) yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda serabut
bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin
stabil. Retikulin mirip kolagen muda. serabut elastin biasanya bergelombang,
berbentuk amorf dan mudah mengembang serta lebih elastis.
3. Lapisan subkutis adalah
kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak
didalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar dengan inti terdesak ke
pinggit sitoplasma lemak yang bertambah.
Sel-sel ini membentuk kelompok yang
dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel
lemak disebut penikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan
ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal
tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokalisasinya. Di abdomen
dapat mencapai ketebalan 3 cm, Di daerah kelopak mata dan penis sangar sedikit.
Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan.
Vaskularisasi dikulit diatur oleh 2
pleksus, yaitu pleksus yang terletak di bagian atas dermis (pleksus
superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di
dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang
disubkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di bagian ini
pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah
terdapat saluran getah bening.2
Fungsi kulit
1. Fungsi
proteksi,
Kulit
menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya
tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimia terutama
yang bersifat iritan, contohnya lisol, karbol, asam, alkali kuat lainnya;
gangguan yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultra violet;
gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur. 3
Hal diatas
dimungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan
serabut-serabut jaringan penunjang yang berperanan sebagai pelindung terhadap
gangguan fisis.3
Melanosit
turut berperanan dalam melindungi kulit terhadap pajanan sinar matahari dengan
mengadakan tanning. Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat
stratum korneum yang impermeabel terhadap berbagai zat kimia dan air, disamping
itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat-zat kimia dan
kulit. Lapisan keasaman kulit ini mungkin terbentuk dari hasil ekskresi
keringat dan sebum, keasaman kulit menyebabkan pH kulit berkisar pada pH 5 -
6,5 sehingga merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun
jamur. Proses kreatinisasi juga berperan sebagai sawar (barrier) mekanis karena
sel-sel mati melepaskan diri secara teratur. 3
2. Fungsi
absorbsi,
Kulit
yang sehat tidak mudah menyerap air,larutan dan benda padat, tetapi cairan yang
mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut lemak. Permeabilitas
kulit terhadap oksigen dan karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi
oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis
vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antar sel, menembus
sel-sel epidermis atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang
melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar. 3
3. Fungsi
ekskresi,
Kelenjar-kelenjar
kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak beguna lagi atau sisa metabolisme dalam
tubuhberupa NaCl, urea, asam urat, dana amonia. Kelenjar lemak pada fetus atas
pengaruh hormon androgen dari ibunya memproduksi serum untuk melindungi
kulitnya terhadap cairan amonion, pada waktu lahir dijumpai sebagai vernix
caseosa. Sebum yang diproduksi melindungi kulit karena lapisan sebum ini selain
meminyaki kulit juga menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak
menjadi kering. Produksi kelenjar lemak dan keringat di kulit menyebabkan
keasaman kulit pada pH 5 - 6.5. 3
4. Fungsi
persepsi,
Kulit
mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap
rangsangan panas diperankan oleh badan-badan ruffini di dermis dan subkutis.
Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan krause yang terletak di dermis.
Badan taktil meissner terletak di papilla dermis berperan terhadap rabaan,
demikian pula badan markel ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan
terhadap tekanan diperankan oleh badan paccini di epidemis. Saraf-saraf
sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik. 3
5. Fungsi
pengaturan suhu tubuh, (termoregulasi),
Kulit
melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot
berkontraksi) pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga
memungkinkan kulit mendapat nutrisi yang cukup baik. Tonus vaskuler dipengaruhi
oleh saraf simpatis. Pada bayi biasannya dinding pembuluh darah belum terbentuk
sempurna, sehingga terjadi ekstravasasi cairan, karena itu kulit bayi tampak
lebih edematosa karena lebih banyak mengandung air dan Na. 3
6. Fungsi
pembentukan pigmen,
Sel
[pembentuk pigmen(melanosit), terletak di lapisan basal dan sel ini berasal
dari rigi saraf .perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10 : 1.
Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen (melanosomes)
menentukan warna kulit ras maupun individu. Pada pulasan H.E sel ini jernih
berbentuk bulat dan merupakan sel dendrit, disebut pula sebagai clear cell.
Melanosum dibentuk oleh alat golgi dengan bantuan enzim tirosinase, ion Cudan
oksigen. Pajanan terhadap sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom.
Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan dendrit sedangkan ke lapisan
kulit dibawahnya dibawa oleh sel melanofag(melanofor). Warna kulit tidak
sepenuhnya dipengaruhi oleh pigmen kulit, melainkan juga oleh tebal tipisnya
kulit, reduksi Hb dan karoten. 3
7. Fungsi
pembentukan vit D,
Dimungkinkan
dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.
Tetapi kebutuhan tubuh akan vitamin D tidak cukup hanya dari hal tersebut,
sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan.
Pada manusia
kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar
keringat dan otot-otot di bawah kulit. 3
2. Sebutkan dan
jelaskan bentuk-bentuk umum dari penyakit kulit ?
Jawab
:
Efloresensi Primer : Kelainan kulit yang
pertama timbul yang disebabkan oleh penyakit kulit tersebut.
Contoh : Makula, urtika, vesikel,
pustula, papula, bulla, nodulus, nodus
Efloresensi Sekunder : Kelainan kulit
yang terjadi setelah perubahahn perkembangan efloresensi primer.
Contoh : Kista, abses, sikatriks, erosi,
ekskoriasi, ulkus, skuama, krusta.
Efloresensi Primer dan Sekunder :
Pustula dan kista4
- Makula : perubahan
warna semata-mata, batas tegas
- Eritema : warna merah
karena pelebaran pembuluh darah kapiler yang reversibel
- Urtika : biduran lah
ya, edema setempat
- Vesikel : gelembung
isi serum, diameter < ½ cm
- Pustul : vesikel isi
nanah
- Bula : vesikel ukuran
besar
- Abses : kumpulan nanah
dalam jaringan
- Papul : penonjolan di
atas epidermis, sirkumskrip, diameter < ½ cm, isi padat
- Nodus : massa padat
sirkumskrip pada subkutan atau kutan (nodulus kalo diameter < ½ cm)
- Vegetasi : penonjolan
bulat atau runcing
- Erosi : kehilangan
jaringan di atas str.basale (intinya ga bedarah)
- Ekskoriasi :
kehilangan jaringan sampai ujung papil dermis (bedarah)
- Ulkus : lebih dalam
lg dari ekskoriasi
- Skuama : lapisan
str.korneum yang terlepas
- Krusta : cairan yang
mengering
- Likenifikasi :
penebalan kulit, relief kulit makin jelas 4
3. Etiologi umum
penyakit kulit ?
Jawab :
Usia, Ras, Familial, Makanan, Cuaca, Hormon,
Bakteri, Autoimun, Virus
4. Patomekanisme
dari :
a. papul
b. postula
c. eritema
Jawab
:
Antigen mencetuskan
reaksi inflamasi akut yang ditandai dengan kalor, dolor, rubor, tumor, dan
fungsi lesia. Edema subepidermis maupun dermis menyebabkan peniggian permukaan
yang membentuk papul pada kulit. Pelebaran pembuluh darah menyebabkan warna
kemerahan disekitar papul atau eritema. Adanya infeksi ataupun reaksi
imunologis menyebabkan terakumulasinya sel-sel radang limfosit maupun PMN di
bawah epidermis maupun dermis yang kemudian membentuk kumpulan nanah atau
pustula.
Pelebaran pembuluh
darah atau telangiektasis pada wajah terutama akibat vasodilatasi arteriole
yang menetap, yang disebabkan oleh kelemahan dinding pembuluh darah serta
perubahan yang timbul pada jaringan ikat sekitarnya akibat pajanan sinar
matahari yang menahun.
5. Pada skenario
mengapa lesi terjadi pada wajah dan leher ?
Jawab
:
Kelenjar palit atau kelenjar sebasea terdapat di seluruh tubuh,
kecuali pada telapak tangan dan telapak kaki. Pada saat dewasa kelenjar ini
jadi lebih besar serta berfungsi aktif. Kelenjar ini menghasilkan sebum atau
minyak. Sebum bersifat komedogenik tersusun dari campuran skualen, wax, ester
dari sterol, kolestrol, lipid polar, dan trigliserida. Beberapa peningkatan
hormon sepreti androgen, gonadotropin, kortikosteroid, anabolik, serta ACTH
mempengaruhi kegiatan dari kelenjar sebasea. Ketika terbentuk fraksi asam lemak
bebas maka akan menyebabkan terjadinya proses inflamasi di dalam sebum. Jadi
intinya dia terjadi di wajah dan leher akibat dari meningkatnya kegiatan dari
kelenjar sebasea.4,7
Mengenai
pembuluh darah yang melebar di daerah wajah dan leher terjadi akibat daerah
tersebut merupakan daerah yang paling sering terkena atau terpapar oleh
matahari, di mana peran sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh matahari itu
dapat menimbulkan kerusakan pembuluh darah kulit.4
6. Mengapa
bintik merah kadang disertai gatal ?
Jawab
:
Gatal adalah suatu persepsi akibat
terangsangnya serabut mekanoreseptor. Sensasi gatal biasanya diikuti dengan
refleks menggaruk yang bertujuan untuk memberi sensasi nyeri yang cukup
sehingga sinyal gatal pada medula spinalis dapat ditekan. Penyebab gatal sangat
beragam.8
Masing-masing faktor penyebab mempunyai
jalur patomekanisme yang berbeda, namun pada akhirnya semua mekanisme akan
berhubungan dengan pengeluaran histamin sebagai mediator inflamasi yang
menyebabkan pruritus. Histamin dibentuk oleh sel mast jaringan dan basofil.
Pelepasannya dirangsang oleh kompleks antigen-antibodi (IgE), alergi tipe I,
pengaktifan komplemen (C3a, C5a), luka bakar, inflamasi, dan beberapa obat.
Histamin melalui reseptor H1 dan peningkatan konsentrasi Ca2+seluler di
endotel akan menyebabkan endotel melepaskan NO, yang merupakan dilator arteri
dan vena. Melalui reseptor H2 histamin juga menyebabkan pelebaran pembuluh
darah kecil yang tidak tergantung dengan NO. Histamin meningkatkan
permeabilitas protein di kapiler. Jadi, protein plasma difiltrasi dibawah
pengaruh histamin, serta gradien tekanan onkotik yang melewati dinding kapiler
akan menurun sehingga terjadi edema.
Ketika sel mast menghasilkan histamin,
ia langsung dapat mensensitisasi ujung serabut saraf C yang berada di bagian
superfisialis kulit. Setelah impuls diterima oleh saraf C, impuls diteruskan ke
serabut radiks dorsalis kemudian diteruskan menuju medulla spinalis. Pada
komisura anterior medulla spinalis impuls menyilang ke kolumna alba
anterolateral sisi berlawanan. Kemudian naik ke batang otak atau talamus untuk
diinterpretasikan sebagai sensasi gatal. Sensasi ini kemudian merangsang
refleks menggaruk untuk memberikan sensasi nyeri yang cukup untuk kemudian
menekan sinyal gatal pada medulla spinalis.8
1. Penyakit
Autoimun terkait genetic. Psoriasis tipe I dengan awitan dini bersifat familial
dan berhubungan dengan HLA-B13, B17, Bw57, dan Cw6. HLA disini merupakan suatu
petanda imunogenetik yang mencetuskan respon imun pada diri seseorang. Dalam
keadaan normal HLA bertugas untuk mempresentasikan determinan antigen pada sel
limfosit Th CD4+ yang kemudian dapat menimbulkan respons imunologik.
2. Inflamasi
3. Reaksi
Alergi. Alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I. Bila terbentuk ikatan
antigen-antibodi terbentuk second messenger yang memicu degranulasi
sel mast sehingga terjadi eksositosis mediator inflamasi, salah satunya
histamin yang dapat menyebabkan gatal.
4. Paparan
fisik
5. Stress
6. serum
sickness. Penisilin dan sulfonamida dapat menyebabkan keadaan yang dikenal
denganserum sickness. Penyakit ini merupakan akibat terbentuknya kompleks
imun dalam darah. Dulu keadaan ini ditemukan pada pasien dengan pemberian
antiserum kuda untuk mencegah difteri atau tetanus. Pada mulanya diberikan
bahan antigenik sehingga timbul respons antibodi yang spesifik. Pada saat itu
antigen dalam darah menurun tajam disertai pembentukan kompleks imun yang
terdiri dari satu molekul antibodi dan dua molekul antigen. Seiring
berjalannnya waktu terbentuklah kompleks yang lebih besar dengan perbandingan
tiga molekul antigen dan dua molekul antibodi. Kompleks ini mudah mengendap di
pembuluh darah kecil dan dapat mengaktifkan sistem komplemen dan mekanisme
radang lainnya. Diantara produk komplemen yang terbentuk ada yang disebut
dengan anafilatoksin (C3a, C5a) yang dapat merangsang sel mast untuk
memproduksi histamin dan timbulah gatal.8,9
7. Apakah ada
pengaruh usia dan stress pda pasien tersebut ? jelaskan !
Jawab :
Seiring dengan bertambahnya usia,
epidermis kehilangan elastisit s turgornya, dan kapasitasnya untuk membentuk
melainin berkurang. Hal ini juga menyebabkan jumlah sel langerhans berkurang.
Menurunnya produksi sel langerhans menyebabkan kulit menjadi rentan terkena
sinar matahari. Penurunan langerhans meningkatkan resiko infeksi pada kulit.
Reseptor sensorik juga berkurang sehingga kemungkinan cedera meningkat. Fungsi
kelenjar sebasea juga semakin menurun. Adapu.n faktor faktor seperti diatas
menyebabkan pertahanan kulit menurun, sehingga gejala gejala gangguan pada
kulit seperti pada kasus terjadi.
8. jelaskan
farmakodinamik dan farmakokinetik dari tetrasiklin & klorokuin ?
Jawab :
A. Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan
basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam HClnya
mudah larut. Dalam keadaan
kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam
larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang
potensinya 12
Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang
diperolah denga cara deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina,
atau dengan fermentasi.
Tetracycline
adalah spektrum luas Poliketida antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces
genus dari Actinobacteria , diindikasikan untuk digunakan melawan infeksi
bakteri banyak. It is a protein synthesis
inhibitor. Ini adalah inhibitor sintesis protein. It is commonly used to treat today, and, more recently, , and played a historical role in stamping out in the developed
world. Hal ini umumnya
digunakan untuk mengobati jerawat hari ini, dan yang lebih baru, rosacea , dan
memainkan peran historis dalam memerangi kolera di negara maju. It is sold under the brand names Sumycin , Terramycin
, Tetracyn , and Panmycin , among others. Actisite is a thread-like fiber form,
used in dental applications. Itu dijual dengan merek Sumycin, Terramycin, Tetracyn, dan Panmycin, antara lain. Actisite adalah seperti bentuk-serat
benang, digunakan dalam aplikasi gigi. It is also
used to produce several semi-synthetic derivatives, which together are known as
the . Hal ini juga digunakan untuk memproduksi turunan
semi-sintetik beberapa yang bersama-sama dikenal sebagai antibiotik
tetrasiklin.
Menurut farmakope Indonesia Edisi 4,
Tetrasiklin memiliki pemerian serbuk hablur kuning, tidak berbau. Stabil di
udara tetapi pada pemaparan dengan cahaya matahari kuat, menjadi gelap. Dalam
laruta dengan pH lebih kecil dari 2, potensi berkurang dan cepat rusak dalam
larutan alkali hidroksida.
Tetrasiklin mempunyai kelarutan sangat
sukar larut dalam air, larut dalam 50 bagian etanol (95%) P, praktis tidak
larut dalam kloroform P, dan dalam eter P. Larut dalam asam encer, larut dalam
alkali disertai peruraian.12
Farmakokinetik
Absorbsi
Kira-kira 30-80% tetrasklin diserap lewat
saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini
sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas. Berbagai
faktor dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam
lambung (kecuali doksisiklin dan monosiklin), pH tinggi, pembentukan kelat (kompleks
tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca2+,
Mg2+, Fe2+, Al3+, yang terdapat dalam susu dan
antasid). Oleh sebab itu sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam
setelah makan.
Tetrasiklin
fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorbsinya dari sediaan tetrasiklin
biasa.12,13
Distribusi
Dalam plasma
serum jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi.
Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin tiap 6
jam menghasilkan kadar sekitar 2,0-2,5 μg/ml.
Masa paruh
doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh
diberikan pada gagal ginjal. Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan
tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak
tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dalam
jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial
di hati, limpa dan sumsum tulang, serta di dentin dan email gigi yang belum
bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri, dan terdapat dalam air susu
ibu dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya,
daya penetrasi doksisiklin dan minosiklin ke jaringan lebih baik 12
Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme
secara berarti di hati. Doksisiklin dan minosiklin mengalami metabolisme di
hati yang cukup berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui
urin berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55%
golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin yang
diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum.
Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi
enterohepatik; maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama
setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan
faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap
diekskresi melalui tinja.13
Antibiotik golongan tetrasiklin yang
diberi per oral dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan sifat farmakokinetiknya,
yaitu :
a.
Tetrasiklin,
klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak
lengkap dengan masa paruh 6-12 jam.
b.
Demetilklortetrasiklin.
Absorpsinya lebih baik dari masa paruhnya kira-kira 16 jam sehingga cukup
diberikan 150mg per oral tiap 6 jam.
c.
Doksisiklin
dan minosiklin. Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17-20 jam.
Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1 atau 2 kali 100 mg sehari.12
Farmakodinamik
Golongan tetrasiklin menghambat
sintesisprotein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses
dalam masuknya anti biotik ke dalam ribosom bakteri gram negative, pertama
secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui sistem transport
aktif. Setelah masuk anti biotik berikatan secara revarsible dengan ribosom 30S
dan mencegah ikatan tRNA – amino asil pada kompleks mRNA – ribosom. Hal
tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang tumbuh dan berakibat
terhentinya sintesis protein.12
Interaksi
obat
a.
Golongan
tetrasiklin dengan antasida ( termasuk garan alimunium, kalsium, atau
magnsium), garam besi, garan zink. Menyababkan absorpsi dan kadar serum
tetrasiklin turun.
Pengatasan : tetrasiklin diberikan 1 jam
sebalum atau 2 jam setelah antasida.
b.
Golongan
tetrasiklin dengan garam bismuth menyebabkan kadar serum tetrasiklin turun.
Pengatasan : bismuth diberikan 2 jam
setelah tetrasiklin
c.
Golongan
tetrasiklin dengan cholestyramine atau colestipol menyebabkan absorpsi
tetrasiklin turun sehingga kadar serumnya juga turun.
Pengatasan : bila perlu dilakukan
penyesuaian dosis tetrasiklin.
d.
Golongan
tetrasiklin dengan pengalkali urin (contoh: Na. Laktat, K. Sitrat) menyababkan
terjadi peningkatan ekskresi dan penurunan kadar serum tetrasiklin.
Pengatasan : pemisahan waktu pemakaian 3-4
jam atau bila perlu dilakukan peningkatan dosis tetrasiklin ( jika pH urin naik
signifikan)
e.
Golongan
tetrasiklin dengan anti koagulan oral. Efek antikoagualan meningkat karena
berkurangnya vitamin K yang diproduksi bakteri dalam usus akibat pemakaian
tetrasiklin.
Pengatasan : monitor parameter anti
koagualan dan bila perlu dosis anti koagualan disesuaikan.
f.
Golongan
tetrasiklin dengan kontrasepsi oral. Tetrasiklin mempengaruhi resirkulasi
enterohepatik kontrasepsi steroid, sehingga menurunkan efeknya.
g.
Golongan
tetrasiklin denga digoxin. Dapat terjadi peningkatan kadar serum digoxin pada
sejumlah kecil pasien ( sekitar 10%).
Pengatasan : monitor kadar digoxin dan
tanda-tanda toksisitasnya.12,13
Penyakit
yang berkaitan
Karena
penggunaan yang berlebih, dewasa ini terjadi resistansi yang mengurangi
efektivitas tetrasiklin. Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin
ialah:
1.
Riketsiosis
Perbaikan yang
dramatis tamapak setelah pemberian golongan tetrasiklin. Demam mereda dalam 1-3
hari dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis yang nyata telah
tampak 24 jam setelah terapi dimulai.
2. Infeksi Klamidia
a.
Limfogranuloma
venereum.
Untuk
penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada infeksi
akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan kronis diberikan terapi
1-2 bulan. Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai mengecil.
b.
Psikatosis
Pemberian
golongan tetrasiklin selama beberapa hari dapat mengatasi gejala klinis. Dosis
yang digunakan ialah 2 gram per hari selama 7-10hari atau 1 gram per hari
selama 21 hari.
c.
Konjungtivitis
inklusi
Penyakit
ini dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3 minggu dengan memberikan salep
mata atau obat tetes mata yang mengandung golongan tetrasiklin.
d.
Trakoma
Pemberian
salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan doksisiklin oral 2 x
100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil pengobatan yang baik.
e.
Uretritis
nonspesifik.
Infeksi
yang disebabkan oleh Ureaplasma
urealyticum atau Chlamydia
trachomatis ini terobati baik dengan pemberian tetrasiklin oral 4 kali 500
mg sehari selama 7 hari. Infeksi C.trachomatis
seringkali menyertai uritritis akibat gonokokus.
3. Infeksi Mycoplasma Pneumoniae
Pneumonia
primer atipik yang disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi dengan pemberian
golongan tetrasiklin. Walaupun penyembuhan klinis cepat dicapai Mycoplasma pneumoniae mungkin tetap
terdapat dalam sputum setelah obat dihentikan.
4. Infeksi Basil
a.
Bruselosis
Pengobatan
dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk penyakit ini.
Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya didapat dengan pengobatan selama 3
minggu. Untuk kasus berat, seringkali perlu diberikan bersama streptomisin
1gram sehari IM.
b.
Tularemia
Obat
pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya ialah streptomisin, tetapi terapi
dengan golongan tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.
c.
Kolera
Doksisiklin
dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk penyakit ini.
Pemberian dapat mengurangi volume diare dalam 48 jam.
d.
Sampar
Antibiotik
terbaik untuk mengobati infeksi ini ialah streptomisin. Bila streptomisin tidak
dapat diberikan, maka dapat dipakai golongan tetrasiklin. Pengobatan dimulai
dengan pemberian secara IV selam 2 hari dan dilanjutkan dengan pemberian per
oral selama 1 minggu.
5. Infeksi Kokus
Golongan
tetrasiklin sekarang tidak lagi diindikasikan untuk infeksi stafilokokus maupun
streptokokus karena sering dijumpai resistensi. Tigesiklin efektif untuk
infeksi kulit dan jaringan lunak oleh streptokokus dan stafilokokus (termasuk
MRSA)
6. Infeksi Venerik
a.
Sifillis
Tetrasiklin
merupakan antibiotik pilihan kedua setelah penisilin untuk mengobati sifillis.
Dosisnya 4 kali 500 mg sehari per oral selama 15 hari. Tetrasiklin juga efektif
untuk mengobati chancroid dan
granuloma inguinal. Karena itu dianjurkan memberikan dosis yang sama dengan
dosis untuk terapi sifilis.
7. Akne Vulgaris
Tetrasiklin
diduga menghambat produksi asam lemak dari sebum. Dosis yang diberikan untuk
ini ialah 2 kali 250 mg sehari selama 2-3 minggu, bila perlu terapi dapat
diteruskan sampai beberapa bulan dengan dosis minimal yang masih efektif.
8. Penyakit Paru Obstruksi Menahun
Eksaserbasi
akut penyakit paru obstruktif menahun dapat diatasi dengan doksisiklin oral 2
kali 100 mg/ hari. Antibiotika lain yang juga bermanfaat ialah kotrimoksazol
dan koamoksiklav.
9. Infeksi Intraabdominal
Tigesiklin
efektif untuk pengobatan infeksi intraabdominal yang disebabkan oleh E. Coli, C.freundii, E.faecalis, B.fragilis
dan kuman-kuman lain yang peka.
10. Infeksi lain
a.
Aktinimikosis
Golongan
tetrasiklin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini bila penisilin G tidak
dapat diberikan kepada pasien.
b.
Frambusia
Respons
penderita terhadap pemberian golongan tetrasiklin berbeda-beda. Pada beberapa
kasus hasilnya baik, yang lalin tidak memuaskan. Antibiotik pilihan utama untuk
penyakit ini ialah penisilin.
c.
Leptospirosis
Walaupun
tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk pengobatan leptospirosis,
efektifitasnya tidak terbukti secara mantap.
d.
Infeksi
saluran cerna
Tetrasiklin
mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amubiasis intestinal akut, dan infeksi
Plasmodium falciparum. Selain itu
mungkin efektif untuk disentri yang disebabkan oleh strain Shigella yang peka.
11. Penggunaan Topikal
Pemakaian topikal
hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan tetrasiklin efektif
untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman Gram-positif dan
Gram-negatif yang sensitif. Selain itu salep mata ini dapat pula digunakan
untuk profilaksis oftalmia neonatorum pada neonatus.12
Contoh
obat
Contoh obat yang mengandung tetrasiklin antara lain:
1. Conmycin
Komposisi : Tetracycline HCL
Indikasi : Infeksi karena organisme yang peka
terhadap tetrasiklin
Dosis : 1 kaps 4 x/ hr. Brucellosis 500 mg 4
x/hr selama 3 minggu. Sifilis 30-40 g dalam dosis terbagi selama 15 hr.
Penggunaan
obat : Berikan pada saat perut kosong 1
jam sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan segelas air, dalam posisi tegak.
Dapat diberikan bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra
Indikasi : Riwayat hipersensitivitas
terhadap tetrasiklin. Hamil, anak <12 tahun.
Efek samping :
Anoreksia, mual, muntah, diare, gossitis, disfagia, enterokolitis, lesi
inflamasi, ruam makulopapular dan eritematosa, fotosensitif.
2. Corsamycin
Komposisi : Oxytetracycline HCl
Indikasi : Bronkitis akut dan kronis termasuk pencegahan
eksaserbasi akut, bronkopneumonia dan atipikal pneumonia disebabkan oleh
mikoplasma pneumonia, bronkiektasis terinfeksi, bronkiolitis, otitis media,
angina vincenti, infeksi traktus urinatius, uretritis non-GO, infeksi bakteri
pada trakusGI dan biliaris, infeksi jaringan lunak, infeksi pasca persalinan
(endometritis), meningitis dan endokarditis, akne vulgaris, GO dan sifilis yang
tidak sesuai dengan penisilin. Granuloma inguinal dan khankroid, bruselosis,
kolera, amubasis, tifus dan Q-fever, psikatosis dan limfogranuloma venereum,
trakoma.
Dosis : Dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama
5-10 hari (untuk kebanyakan infeksi). Infeksi nafas seperti eksaserbasi akut
bronkitis dan pneumonia karena mikoplasma 500 mg 4 x/hr. Profilaksis infeksi
saluran respiratorius 250 mg 2-3 x/hr. GO dan sifilis, bruselosis total dosis
2-3 g/hr.
Penggunaan
Obat : Berikan pada saat perut kosong 1
jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.
Kontra
Indikasi : Hipersensitif, gangguan
ginjal. Hamil, anak < 7 tahun.
Efek samping:
Gangguan GI, gatal di anus dan vulva. Perubahan warna gigi dan hipoplasia pada anak, hambatan pertumbuhan tulang
sementara. Dosis tinggi:
uremia.
3. Corsatet
Komposisi : Tetracycline HCl
Indikasi : Abses, akne, amubiasis, anthraks,
disentri basiler, bartonellosis, bronkitis akut dan kronis, infeksi
bronkopulmoner, bruselosis, kankroid, difteri, infeksi traktus genitourinaria,
GO, granuloma inguinale, infeksi yang menyertai fibrosis kistik pankreas,
listeriosis, limfograuloma venereum, infeksi bakteri campuran, osteomielitis,
otitis eksterna dan media, pertusis, faringitis, pneumonia, psittakosis,
pielonefritis akut dan kronis, rocky mountain spotted fever, demam scarlet,
sinusitis, infeksi jaringan lunak, sifilis, tonsilitis, tularemia, tifoid,
ricketsia, uretritis (non-GO), pencegahan pra dan pasca bedah dan dental.
Dosis : Dewasa 250 mg 4 x/hr. Infeksi berat
1500-2000 mg/hr. Anak 20-40 mg/kg/BB/hr, dosis terbagi. Sifilis dosis total 30-40 g dalam dosis terbagi rata
selam 10-15 hari. Bruselosis kombinasi dengan streptomisin.
Penggunaan
obat : Berikan pada saat perut kosong 1
jam sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan segelas air, dalam posisi tegak.
Dapat diberkian bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra
Indikasi : Hipersensitif, gangguan
ginjal berat, hamil, anak < 12 tahun.
Efek
samping : Gangguan GI,
supersenitif, hepatotoksik dan nefrotoksik. Jarang meningkatkan TIK, SLE.
Perubahan warna gigi dan hipoplasia gigi pada anak dalam masa pertumbuhan.
Efek
samping obat
Efek samping yang mungkin timbul akibat
pemberian golongan tetrasiklin dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu reaksi
kepekaan, reaksi toksik dan iritatif serta reaksi yang timbul akibat perubahan
biologik.
1.
Reaksi
Kepekaan
Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin
ialah erupsi mobiliformis, urtikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang
lebih hebat ialah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Demam dan
eosinofilia dapat pula terjadi pada waktu terapi berlangsung. Sensitisasi silang
antara berbagai derivat tetrasiklin sering terjadi.
2. Reaksi toksik dan iritatif
Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per oral,
terutama dengan oksitetrasiklin dan doksisiklin. Makin besar dosis yang
diberikan, makin sering terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan
mengurangi dosis untuk sementara waktu atau memberikan golongan tetrasiklin
bersama dengan makanan, tetapi jangan dengan susu atau antasid yang mengandung
alumunium, magnesium atau kalsium. Diare seringkali timbul akibat iritasi dan
harus dibedakan dengan diare akibat superinfeksi stafilokokus atau Clostridium
difficile yang sangat berbahaya.
Manifestasi
reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya tromboflebitis pada pemberian IV dan
rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM tanpa anestetik
lokal.
Terapi
dalam waktu lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis,
limfosit atipik, granulasi toksik pada granulosit dan trombositopenia.
Reaksi fototoksik
paling jarang timbul dengan tetrasiklin, tetapi paling sering timbul pada
pemberian dimetilklortetrasiklin. Manifestasinya berupa fotosensitivitas,
kadang-kadang disertai demam dan eosinofilia. Pigmentasi kuku dan onikolisis,
yaitu lepasnya kuku dari dasarnya, juga dapat terjadi.
3. Efek samping akibat perubahan biologik
Seperti
antibiotik lain yang berspektrum luas, pemberian golongan tetrasiklin
kadang-kadang diikuti oleh terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan
jamur. Superinfeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, bahkan
kadang-kadang menyebabkan infeksi sistemik. Faktor predisposisi yang memudahkan
terjadinya superinfeksi ini ialah diabetes melitus, leukimia, lupus
eritematosus diseminata, daya tahan tubuh yang lemah dan pasien yang mendapat
terapi kortikosteroid dalam waktu lama.12,13
1.
Klorokuin
Defenisi
Klorokuin adalah
derivate 4-aminokuinolon yang merupakan senyawa difosfat, bentuk bubuk putih
yang pahi dan larut dalam air sera stabil.14
Farmakokinetik
Klorokuin secara cepat
diabsorpsi di saluran cerna seelah pemberian oral, dan kadar teringgi dalam
plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam. Waktu paruhnya kurang lebih 3 hari.
Pemberian intravena harus diawasi dengan ketat dan harus dilakukan secara
perlahan karena konsentrasi dalam plasma segera dicapai dalam waktu 5-15 menit
untuk menghindari terjadinya reaksi toksik. Konsentrasi obat tertinggi terdapat
dilimfa,hati,janung,dan ginjal. Ekskresinya teruama melalui urine.
Indikasi
1. Malaria
2. Amebiasis
ekstrainestinal
3. Gangguan
auoimun, seperi rheumatoid arritis dan lupus eriematous
Kontraindikasi
Penderita psoriasis atau porfiria,
gangguan fungsi hati, alkoholisme, gangguan neurologic atau hematologic,
pemberian IM pada anak-anak, serta pada penderita gangguan lapangan pandangan
mata dan retina.14
Efek samping
Obat ini sering menimbulkan gangguan
penglihaan. Untuk mengjindari mual, obat ini sebaiknya diberikan seelah makan.
Manifesasi reaksi toksik akut biasanya berupa gangguan kardiovaskular, seperti
hipotensi, vasodilatasi, penekanan fungsi miokard, dan bahkan henti jantung.
Ineraksi obat
1. Tidak
boleh diberikan bersama fenilbutazon dan sediaan Au
2. Pemberian
bersama primakuin dapat meningkatkan oksisitasnya
3. Kaolin
(obat antidiare) dan antasida tidak boleh diberikan bersamaan sebelum 4 jam
pemberian obat ini.
Sediaan dan dosis
Sediaan klorokuin ada 2, yaiu klorokuin
fosfat dan klorokuin sulfat. Klorokuin fosfat ersedia dalam bentuk tablet 250mg
dan tablet 500mg serta bentuk sirup. Klorokuin sulfat tersedia dalam bentuk
injeksi 50mg.14
9. Differensial Diagnosis
?
Jawab :
Rosasea
a. Definisi
Penyakit kulit kronis pada daerah sentral wajah
(yang menonjol/cembung) yang ditandai dengan kemerahan pada kulit dan
telangiektasi disertai episode peradangan yang memunculkan erupsi, papul,
pustul dan edema4
b. Etiologi dan patogenesis
Etiologi
rosasea tidak diketahui. Ada beberapa hipotesis faktor penyebab:
1. Makanan:
alcohol merupakan penyebab rosasea yang diutarakan sejak zaman Shakespeare dan
pernah ditulis dalam salah satu bukunya. Konstipasi, diare pemyakit
gastrointestinal dan bahkan penyakit kelenjar empedu telah pula dianggap
sebagai faktor penyebabmya.
2. Psikis
3. Obat:
adanya peningkatan bradikinin yang dilepas dari adrenalin pada saat kemerahan
kulit flushing menimbulkan dugaan adanya peranan berbagai obat, baik sebagai
penyebab maupun yang dapat digunakan sebagai terapi rosasea.
4. Infeksi:
Demodex folliculorum dahulu dianggap
berperan pada etiologi rosasea, namun akhir-akhir ini mulai ditinggalkan.
5. Musim:
Peran musim panas atau musim dingin, termasuk didalamnya peran sinar
ultraviolet matahari yang dapat menimbulkan kerusakan pembuluh darah kulit
penyebab eritema persisten masih terus diselidiki karena belum jelas dan
bertentangan hasilnya.
6. Imunologis:
dari lapisan dermo-epidermal penderita rosasea ditemukan adanya deposit
immunoglobulin oleh beberapa peneliti, sedang di kolagen papiler ditemukan
antibody antikolagen dan antinuclear antibody sehingga ada dugaan faktor
imunologis pada rosasea.
7. Lainnya:
defisiensi vitamin, hormonal dan sebore pernah disangka berperan pada etiologi
rosasea namun tidak dapat dibuktikan. 4
c. Epidemiologi
Rosasea
sering diderita pada umur 30-40an, namun dapat pula pada remaja maupun orang
tua. Umumnya wanita lebih sering terkena dari pada pria. Ras kulit putih
(kaukasia) lebih banyak terkena dari pada kulit hitam (negro) atau berwarna
(polinesia), dan di negara barat lebih sering pada mereka yang bertararf
sosio-ekonomi rendah.
d. Gejala klinis
Tempat
predileksi rosasea adalah di sentral wajah, yaitu hidung, pipi, dagu, kening,
dan alis. Kadang-kadang meluas ke leher bahkan pergelangan tangan atau kaki.
Lesi umumnya simetris. 4
Gejala
utama rosasea adalah eritema, telangiectasia, papul, edema, dan pustule. Komedo
tak ditemukan dan bila ada mungkin kombinasi dengan akne (komedo solaris, akne
komestika). Adanya eritema dan telangiectasia adalah persisten pada setiap
episode dan merupakan gejala khas rosasea. Papul kemerahan pada rosasea tidak
nyeri, berbeda dengan akne vulgaris, dan hemisferikal. Pustule hanya ditemukan
pada 20% penderita, sedang edema dapat menghilang atau menetap antara episode
rosasea.
Pada
tahap awal (stadium I) rosasea dimulai dengan timbulnya eritema tanpa sebab
atau akibat sengatan matahari. Eritema ini menetap lalu diikuti timbulnya
beberapa telangiectasia. Pada tahap kemudian (stadium II) dengan selingi
episode akut yang menyebabkan timbulnya papul, pustule, dan edema, terjadilah
eritema persisten dan banyak telangiectasia, papul, dan pustule. Pada tahap
lanjut (stadium III) terlihat eritema persisten yang dalam, banyak
telangiectasia, papul, pustule, nodus, dan edema. Komplikasi rinofima atau
peradangan okuler merupakan hal yang terjadi kemudian.4
e. Histopatologi
Gambaran
histopatologi rosasea khas namun tidak patonomonil. Terdapat ektasia vaskuler,
edema dermis, dan disorganisasi jaringan konektif dermis. Solar elastosis juga
sering terlihat. Derajat peradangan tergantung pada kondisi dan stadium lesi.
Sel radang limfosit dan histiosit dan bahkan sel raksasa pada dermis dan
perivaskuler, sel plasma dan sel mast dapat juga terlihat, apalagi bila edema
berlangsung lama. Pasa pustule terdapat sebaran sel PMN sekitar folikel. Demodex folliculorum sering dapat
ditemukan dalam folikel infundibulum dan duktus sebasea. 4
f.
Pengobatan
1. Topical
a. Tertrasiklin,
klindamisin, eritomisin dalam salap 0,5-2,0%. Eritomosin lebih baik hasilnya
dibandingkan lainnya.
b. Metronidasol
0.75% gel atau krim 2% efektif untuk lesi papul dan pustule
c. Imidasol
sendiri atau dengan ketokonasol atau sulfur 2-5% dapat dicoba
d. Isotretinoin
krim 0.2% juga bermanfaat
e. Antiparasit
untuk membunuh D.follikuloru;
Misalnya lindane, krotamiton, atau bensoil bensoat.
f.
Kortikosteroid
kekuatan rendah (krim hidrokortison 1%) hanya dianjurkan pada stadium berat.
2. Sistemik
a. Tertrasiklin,
eritomisin, doksisiklin, minosiklin dengan dosis sama dengan dosis akne
vulgaris beradang memberikan hasil yang baik karena efek antimikroba dan
anti-inflamasinya.
Dosis
kemudian diturunkan bila lesi membaik.
b. Isotretinoin
(13 cis retinoat) 0.5-1.0/kgBB/hari dapat digunakan kecual bila ada rosasea
dimata. Penguunaannya harus diamati secara ketat
c. Metronidasol
2x500 mg/hari efektif baik stadium awal maupun akhir.
3. Lainnya
a. Sunblock
dengan SPF 15 atau lebih dianjurkan dipakai penderita untuk menahan sinar UVA
dan UVB.
b. Masase
fasial dahulu dianjurkan dilakukan, namun hasilnya tidak jelas.
c. Diet
rokok, alcohol, kopi, pedas dapat dilakukan untuk mengurangi rangsangan
eritema.
d. Bedah
kulit; scalpel atau dermabrasi untuk rinofima dan bedah listrik untuk
telangiectasia.
g. Komplikasi
Rinofima,
inflamasi ocular, dan rosasea limfadema
h. Prognosis
Rosasea
umumnya persisten, berangsur bertambah berat melalui episode akut. Namun
adapula yang remisi secara spontan. 4
Dermatitis
Seboroik
A. Definisi
Dermatitis
seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh
berambut, terutama pada kulit kepala, alis mata dan muka, kronik dan
superfisial. 7
B. Etiologi
Penyebab
belum diketahui pasti. Hanya didapati aktivitas kelenjar sebasea berlebihan.
Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia setelah pubertas.
Kemungkinan ada pengaruh hormon. Pada bayi dijumpai hormon trensplasenta
meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar
hormon ini menurun. Penelitian lain menunjukkan bahwa Pityrosporum ovale (Malassezia ovale), jamur lipofilik, banyak
jumlahnya pada penderita dermatitis seboroik. 7
C. Manifestasi klinis
Dermatitis
seboroik ini mempunyai predileksi pada daerah yang berambut, karena banyak
kelenjar sebasea, yaitu kulit kepala, retroaurikula, alis mata, bulu mata,
sulkus nasolabialis, telinga, leher, daerah lipatan, aksila, inguinal, glutea,
di bawah buah dada. Distribusinya biasanya bilateral dan simetris berupa bercak
ataupun plakat dengan batas yang tidak jelas, eritem ringan dan sedang, skuama
berminyak dan kekuningan. Dermatitis seboroik jarang menyebabkan kerontokan
rambut. 7
Ruamnya
berbeda-beda, sering ditemukan pada kulit yang berminyak. Ruamnya berupa skuama
yang berminyak, berwarna kekuningan, dengan batas yang tidak jelas dan dasar
berwarna merah (eritem). Pada dermatitis seboroik ringan, hanya didapati skuama
pada kulit ringan. Skuama berwarna putih dan merata tanpa eritem. 7
D. Histopatologi
Gambaran
histologik dermatitis seboroik tidak spesifik, bervariasi sesuai dengan stadium
penyakit. Pada bagian epidermis, dijumpai parakeratosis dan akantosis. Pada
korium, dijumpai pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler. Pada stadium
akut dan subakut, epidermis mengalami ortokeratosis, parakeratosis, serta
spongiosis. Pada tepi muara folikel rambut yang melebar dan tersumbat masa
keratin, ditemukan gundukan parakeratosis yang mengandung neutrofil. Gambaran
ini merupakan gambaran yang khas. Pada dermis bagian atas, dijumpai sebukan
ringan limfohistiosit perivaskuler. Pada yang kronis, gambarannya hampir sama
dengan gambaran hampir sama dengan gambaran pada psoriasis. 7
E. Pengobatan
1. Tindakan
umum
Penderita harus diberi tahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan
sering kambuh. Harus dihindari faktor pencetus, seperti stress emosional,
makanan berlemak, dan sebagainya.
2. Pengobatan
topikal
Digunakan sampo yang mengandung sulfur
atau asam salisil dan selenium sulfide 2%, 2-3 kali seminggu selama 5-10 menit.
Atau dapat diberikan sampo yang mengandung sulfur, asam salisil, zing pirition
1-2%. Kemudian dapat diberikan krim untuk tempat yang tidak berambut atau
losio/gel kortikosteroid untuk daerah yang berambut.
3. Pengobatan
sistemik
Dapat diberikan anti histamine ataupun
sedatif. Pada keadaan yang berat dapat diberikan kortikosteroid sistemik. Kalau
ada infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika.7
Agne
Vulgaris
a. Definisi
Akne
vulgaris ( jerawat ) penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel
pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa
komedo, papula, pustul, nodus, dan kista pada daerah-daerah predileksi seperti
muka, bahu, bagian atas dari ektremitas superior, dada dan punggung7
b. Epidemiologi
Akne
vulgaris menjadi masalah pada hampir semua remaja. Akne minor adalah suatu
bentuk acne yang ringan, dan dialami oleh 85% remaja. Gangguan ini masih
dianggap proses fisiologik. 15% remaja menderita acne major, yang cukup hebat
sehingga mendorong mereka untuk berobat kedokter. 7
Biasanya
akne vulgaris mulai timbul pada masa pubertas. Pada wanita, insiden terbanyak
terjadi pada usia 14-17 tahun, sedangkan pada laki-laki 16-19 tahun. 7
c. Etiologi
Penyebab yang pasti
belum diketahui, tapi banyak faktor yang mempengaruhi :
1. Sebum
Sebum merupakan faktor utama
penyebab timbulnya akne, akne biasanya mulai timbul pada waktu kelenjar sebasea
membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Terdapat korelasi anata akne yang
dihasilkan dengan produksi sebum. 1
2. Bakteri
Mikroba
yang terlibat pada terbentuknya akne adalah Corynebacterium
acnes, Staphylococcus epidermidis dan pityrosporum ovale, dari ketiga yang
paling berpengaruh adalah Corynebacterium
acnes. 7
3. Hereditas
Faktor
herediter sangat berpengaruh pada besar dan aktivitas kelenjar glandula
sebacea. Apabila kedua orang tua mempunyai parut bekas acne kemungkinan besar
anaknya akan menderita acne. 7
4. Hormon
Hormon
androgen memegang peranan penting karena glandula sebacea sangat sensitif
terhadap hormon ini. Hormon androgen berasal dari testes dan kelenjar anak
ginjal (adrenal). Hormon ini menyebabkan kelenjar sebacea bertambah besar dan
produksi sebum meningkat.
Estrogen pada keadaan fisiologi, estrogen tidak
berpengaruh terhadap produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar
gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis. Hormon gonadotropin
mempunyai efek menurunkan produksi sebum.
Progesteron. Progesteron, dalam jumlah fisiologis tidak
mempunyai efek terhadap efektivitas terhadap kelenjar lemak. Produksi sebum
tetap selama siklus menstruasi, akan tetapi kadang-kadang progesteron dapat
menyebabkan akne premenstruasi. 7
5. Diet
Pada
penderita yang banyak makan karbohidrat dan zat lemak tak dapat dipastikan akan
terjadi perubahan pada pengeluaran sebum atau komposisinya karena kelenjar
lemak bukan alat pengeluaran untuk lemak yang dikonsumsi. 7
6. Iklim
Pada daerah yang mempunyai empat
musim biasanya akne akan bertambah hebat pada musim dingin dan sebaliknya
membaik pada musim panas. Hal ini disebabkan karena sinar ultraviolet (UV) yang
mempunyai efek membunuh bakteri dapat menembus epidermis bagian bawah dan
dermis bagian atas yang berpengaruh pada bakteri yang berada dibagian dalam
kelenjar sebasea.
Menurut cunliffe, pada musim panas
didapatkan 60% perbaikan akne, 20% tidak ada perubahan, dan 20% bertambah
hebat. Bertamabah hebatnya akne pada musim panas bukan disebabkan oleh sinar
UV. Melainkan oleh banyaknya keringat pada keadaan yang sangat lembab dan panas
tersebut. 7
7. Psikis
Pada beberapa
penderita, stress dan gangguan emosi dapat menyebabkan eksaserbasi akne,
mekanisme yang pasti belumdiketahui. Kecemasan penderita menyebabkan penderita
memanipulasi akne secara mekanis, sehingga terjadi kerusakan pada dinding
folikel dan timbul lesi beradang yang baru. Teori lain mengatakan bahwa
eksaserbasi ini disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon androgen dari
kelenjar anak ginjal dan sebum, bahkan
asam lemak dalam sebumpun meningkat.
8.
Kosmetika
Pemakaian bahan
kosmetika tertentu secara terus-menerus dalam waktu lama dapat menyebabkan
suatu bentuk akne ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup dengan
beberapa lesi papulopustular pada pipi dan dagu. Bahan yang sering menyebabkan
akne terdapat dalam beberapa krem muka sepert bedak dasar, pelembab, sunscreen,
krem malam yang mengandung bahan seperti lanolin, petrolatum, minyak tumbuhan,
dan bahan kimia murni. 7
9. Bahan-bahan
kimia
Beberapa
macam bahan kimia dapat menyebabkan erupsi yang mirip dengan akne seperti
iodida, kortikosteroid, INH, obat antikonvulsan, tetrasiklin, dan vitamin B12.
7
10. Merokok
Rokok dapat mempengaruhi kondisi kulit seseorang sehingga
menimbulkan acne yang dikenal dengan “smoking acne”. Berdasarkan penelitian
sekitar 42% perokok menderita akne vulgaris. Partisipasi non-perokok yang
memiliki akne vulgaris tidak meradang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, seperti sering terkena uap atau terus menerus terpapar asap rokok.
7
d. Gejala
klinis
Manifestasi klinis akne dapat berupa lesi non inflamasi
(komedo terbuka dan komedo tertutup), lesi inflamasi (papul dan pustul) dan
lesi inflamasi dalam (nodul).14
1.
Komedo
Komedo adalah tanda awal dari akne. Sering muncul 1-2 tahun
sebelum pubertas. Komedogenic adalah proses deskuamasi korneosit folikel dalam
duktus folikel sebasea mengakibatkan terbentuknya mikrokomedo (mikroskopik
komedo) yang merupakan inti dari patogenesis akne. Mikrokomedo berkembang
menjadi lesi non inflamasi yaitu komedo terbuka dan komedo tertutup atau dapat
juga berkembang menjadi lesi inflamasi.
a.
Komedo terbuka
Disebut juga blackhead secara klinis dijumpai lesi berwarna
hitam berdiameter 0,1-3mm, biasanya berkembang waktu beberapa minggu. Puncak
komedo berwarna hitam disebabkan permukaan lemaknya mengalami oksidasi dan
akibat pengaruh melaminb)
b.
Komedo tertutup
Disebut juga whitehead secara klinis dijumpai lesinya kecil
dan jelas berdiameter 0,1-3mm, komedo jenis inidisebabkan oleh sel-sel kulit
mati dan kelenjar minyak yang berlebihan pada kulit. Secara berkala pada kulit
terjadi penumpukan sel-sel kulit mati, minyak dipermukaan kulit kemudian
menutup sel-sel kulit dan terjadilah sumbatan.
2.
Jerawat biasa2
Jerawat jenis ini mudah dikenal, tonjolan kecil berwarna
pink atau kemerahan. Terjadi karena terinfeksi dengan bakteri. Bakteri ini
terdapat dipermukaan kulit, dapat juga dari waslap, kuas make up, jari tangan
juga telepon. Stres, hormon dan udara lembab dapat memperbesar kemungkinan
infeksi jerawat karena kulit memproduksi minyak yang merupakan
perkembangbiakannya bakteri berkumpul pada salah satu bagian muka.
a.
Papula
Penonjolan padat diatas permukaan kulit akibat reaksi
radang, berbatas tegas dan berukuran diameter <5mm.Papul superfisial sembuh
dalam 5-10 hari dengan sedikit jaringan parut tetapi dapat terjadi
hiperpigmentasi pasca inflamasi terutama remaja dengan kulit yang berwarna
gelap. Papul yang lebih dalam penyembuhannya memerlukan waktu yang lebih lama
dan dapat meninggalkan jaringan parut.
b. Pustula
Pustul akne vulgaris merupakan papul
dengan puncak berupa pus.Letak pustula bisa dalam ataupun superfisial. Pustula
lebih jarang dijumpai dibandingkan papula dan pustula yang dalam sering
dijumpai pada akne vulgaris yang parah.
c. Nodul
Nodul pada akne vulgaris merupakan lesi radang dengan
diameter 1 cm atau lebih, disertai dengan nyeri.
3.
Cystic Acne/jerawat Kista (jerawat batu)14
Acne yang besar dengan tonjolan-tonjolan yang meradang
hebat, berkumpul diseluruh muka. Penonjolan diatas permukaan kulit berupa
kantong yang berisi cairan serosa atau setengah padat atau padat. Kista jarang
terjadi, bila terbentuk berdiameter bisa mencapai beberapa sentimeter. Jika
diaspirasi dengan jarum besar akan didapati material kental berupa krem
berwarna kuning. Lesi dapa menyatu menyebabkan terbentuknya sinus, terjadi
nekrosis dan peradangan granulomatous. Keadaan ini sering disebut akne
konglobata. Penderita ini biasanya juga memiliki keluarga dekat yang juga
menderita akne yang serupa.
4.
Parut2
Jaringan ikat yang menggantikan epidermis dan dermis yang
sudah hilang. Sering disebabkan lesi nodulokistik yang mengalami peradangan
yang besar.
Ada beberapa bentuk jaringan parut, antara lain:
a. Ice-pick scar merupakan jaringan parut depresi dengan
bentuk ireguler terutama pada wajah.
b. Fibrosis peri-folikuler ditandai dengan cincin kuning
disekitar folikel.
c. Jaringan parut hipertrofik atau keloid, sering terdapat
didada, punggung, garis rahang (jaw line)
dan telinga, lebih sering ditemukan pada orang berkulit gelap.
e. Patogenesis Akne Vulgaris7
Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya
akne :
1. Kenaikan sekresi sebum
Akne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu
kelenjar sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Terdapat
korelasi antara hebatnya akne dan produksi sebum. Pertumbuhan kelenjar palit
dan produksi sebum dibawah pengaruh hormon androgen. Pada penderita akne
terdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal berada dalam darah
(testosteron) kebentuk metabolit yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron).
Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi
sel penghasil sebum.
Meningkatnya produksi sebum pada penderita akne disebabkan
oleh respon organ akhir yang berlebihan (end-organ hyperresponse) pada
kelenjar palit terhadap kadar normal androgen dalam darah. Terbukti bahwa, pada
kebanyakan penderita, lesi akne hanya ditemukan dibeberapa tempat yang kaya
akan kelenjar palit.
Akne mungkin juga berhubungan dengan komposisi lemak. Sebum
bersifat komedogenik tersusun dari campuaran skualen, lilin (wax), ester dari
sterol, kholesterol, lipid polar, dan trigliserida. Pada penderita akne
terdapat kecenderungan mempunyai kadar skualen dan ester lilin (wax) yang
tinggi, sedangkan kadar asam lemak terutama asam leinoleik, rendah. Mungkin hal
ini ada hubungan dengan terjadinya hiperkeratinisasi pada saluran polisebasea.
2. Keratinisasi folikel7
Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya
penumpukan korniosit dalam saluran pilosebasea.
Hal ini dapat disebabkan :
a.
Bertambahnya erupsi korniosis pada
saluran pilosebasea
b.
Pelepasan
korniosit yang tidak adekuat
c.
Kombinasi kedua faktor diatas.
Bertambahnya produksi korniosit dari sel keratinosit
merupakan salah satu sifat komedo.
Terdapat hubungan terbalik antara sekresi sebum dan
konsentrasi asam linoleik dalam sebum. Menurut Downing, akibat dari
meningkatnya sebum pada penderita akne, terjadi penurunan konsentrasi asam
lenolik. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi asam lenoleik pada epitel folikel,
yang akan menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi barier dari
epitel. Dinding komedo lebih mudah ditembus bahan-bahan yang menimbulkan
peradangan. Walaupun asam lenoleik merupakan unsur penting dalam seramaid-1,
lemak lain mungkin juga berpengaruh pada patogenesis akne. Kadar sterol bebas
juga menurun pada komedo sehingga terjadi ketidak seimbangan antara kholesterol
bebas dengan kholesterol sulfat sehinggga adhesi korneosit pada
akroinfundibulum bertambah dan terjadi hiperkeratosis folikel.
3. Bakteri7
Tiga macam mikroba yang terlibat dalam patogenesis akne
adalah corynebakterium Acne, Stafylococcus epidermidis, dan pityrosporum
ovale (malazzea furfur). Adanya sebore pada pubertas biasanya disertai
dengan kenaikan jumlah corynebacterium acne, tetapi tidak ada hubungan dengan
jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran pilosebasea dengan
derajat hebatnya akne. Tampaknya ketiga macam bakteri ini bukanlah penyebab
primer pada proses patologis akne. Beberapa lesi mungkin timbul tanpa ada
mikroorganisme yang hidup, sedangkan pada lesi yang lain mikroorganisme mungkin
memegang peranan penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya masing-masing
lesi. Apakah bakteri yang berdiam dalam folikel (residen bacteria) mengadakan
eksaserbasi tergantung pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut. Menurut
hipotesis Saint-Leger skualen yang dihasilkan oleh kelenjar palit dioksidasi
dalam kelenjar folikel dan hasil oksidasi ini dapat menyeebabkan terjadinya
komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan akhirnya menjadi kolonisasi C..Acnes.
bakteri ini memproduksi porfirin, yang bila dilepaskan dalam folikel akan
menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi skualen, sehingga oksigen dalam
folikel tambah berkurang lagi. Penurunan tekanan oksigen dan tingginya jumlah
bakteri ini dapat menyebabkan peradangan folikel. Hipotesis ini dapat
menerangkan mengapa akne hanya dapat terjadi pada beberapa folikel, sedangkan
folikel yang lain tetap normal.
4. Peradangan7
Faktor yang menyebabkan peradangan pada akne belumlah
diketahui dengan pasti. Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang
dihasilkan oleh C.Acnes seperti lipase, hialuronidase, protease,
lesitinase dan nioranidase, memegang peranan penting dalam proses peradangan.
Factor kemotaktik yang berberat molekul rendah (tidak
memerlukan komplemen untuk bekerja aktif), bila keluar dari folikel, dapat
menarik leukosit nucleus polimorfi (PMN) dan limfosit. Bila masuk kedalam
folikel, PMN dapat mencerna C. Acnes dan mengeluarkan enzim hidrolitik
yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel sebasea. Limfosit dapat merupakan
pencetus terbentuknya sitokin.
Bahan keratin yang sukar larut, yang terdapat di dalam sel
tanduk serta lemak dari kelenjar palit dapat menyebabkan reaksi non spesifik,
yang disertai makrofag dan sel-sel raksasa.
Pada masa permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh C.Acnes,
juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif (classical and
alternative complement pathways). Respon penjamu terhadap mediator juga
amat penting. Selain itu antibody terhadap C.Acnes juga meningkat pada
penderita akne hebat.
f.
Klasifikasi
a. Tingkat keseluruhan ( 0verall Grading )7,15
Klasifikasi berdasarkan metode Pillsbury dan kawan-kawan
(1963) membagi berat ringannya akne berdasarkan ada atau tidaknya peradangan,
yaitu :
1. Komedo di wajah
2. Komedo, papul, pustul, dan
peradangan lebih dalam di wajah
3. Komedo, papul, pustul, dan
peradangan lebih dalam di wajah, dada, punggung
4. Akne konglobata
b. Perhitungan lesi
Klasifikasi lainnya oleh Plewig dan Kligman, yang
mengelompokkan acne vulgaris menjadi :
1. Acne komedonal
a. Grade 1 : Kurang dari 10 komedo pada tiap sisi wajah.
b. Grade 2 : 10-25 komedo pada tiap sisi wajah.
c. Grade 3 : 25-50 komedo pada tiap sisi wajah.
d. Grade 4 : Lebih dari 50 komedo pada tiap sisi wajah.
2. Acne papulopustul
a. Grade 1 : Kurang dari 10 lesi pada tiap sisi wajah.
b. Grade 2 : 10-20 lesi pada tiap sisi wajah.
c. Grade 3 : 20-30 lesi pada tiap sisi wajah.
d. Grade 4 : Lebih dari 30 lesi pada tiap sisi wajah.
3. Acne konglobata
Klasifikasi ASEAN grading Lehmann 2003 yang mengelompokkan acne menjadi tiga kategori, yaitu ringan, sedang,
dan berat sebagai berikut: 15
g. Diagnosis
Diagnosis akne vulgaris ditegakkan atas dasar klinis dan
pemeriksaan ekskohleasi sebum. Diagnosis klinis dimana pada pemeriksaan kulit
didapatkan erupsi kulit pada tempat predileksi yang bersifat polimorfi yang
terdiri dari komedo (tanda patognominik akne vulgaris), papul, pustul dan
nodul. Pemeriksaan ekskohleasi sebum adalah pengeluaran sumbatan sebum dengan
komedo ekstraktor (sendok Unna). Pada pemeriksaan histopatologi komedo sel
keratin, sebum dan beberapa mikroorganisme, memperlihatkan gambaran yang tidak
spesifik berupa serbukan sel radang kronis disekitar folikel pilosebasea dengan
masa sebum didalam folike tetapi yang sering ditemukan hanyalah sel keratin.
Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit (skin surface lipida). Pada
akne vulgaris kadar asam lemak bebas meningkat, oleh karena itu pada pencegahan
dan pengobatan digunakan cara untuk menurunkannya.14
h. Penatalaksanaan14
Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha untuk mencegah
terjadinya erupsi (preventif) dan usaha untuk menghilangkan akne yang terjadi
(kuratif).
1.
Pencegahan
a. Menghindari peningkatan jumlah sebum dan perubahan isi
sebum
1. Diet rendah lemak dan karbohidrat.
2. Minum air putih minimal 8 gelas sehari, dengan air putih
yang cukup kulit akan lebih elastis dan metabolisme
tubuh menjadi lancar dan normal dan detokfikasi tubuh dari dalam keluar.
3. Melakukan perawatan kulit.
4. Mandi sesegera mungkin setelah aktifitas berkeringat.
5. Cuci muka dengan sabun dan air hangat 2 kali
sehari.Jangan mencuci muka berlebihan dengan sabun (6-8 kali sehari) karena
dapat menyebabkan akne detergen.
6. Dapat juga menggunakan cairan cleanser, tetapi hindari
menggunakan scrub yang malah dapat mengiritasi kulit dan dapat memperparah
akne.
7. Hindari pemakaian anti septik atau medicated soap yang
sering mengakibatkan kulit menjadi iritasi.
b. Menghindari faktor pemicu terjadinya akne.
1. Hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olahraga sesuai
kondisi tubuh.
2. Penggunaan kosmetika secukupnya.
3. Bersihkan kuas kosmetika secara teratur dengan air sabun
dan membuang alat make up yang sudah lama dan sudah tidak layak pakai.
4. Hindari bahan kosmetika yang berminyak, tabir surya,
produk pembentuk rambut atau penutup jerawat.
c. Menjauhi
terpacunya kelenjar minyak, misalkan minuman keras, rokok, polusi debu,
lingkungan yang tidak sehat dan sebagainya.
d. Hindari
penusukan, pemencetan lesi, mencongkel dan sebagainya karena dapat menyebabkan
infeksi, menimbulkan bekas, memperparah akne dan bahkan membuat kesembuhan
lebih lama.
2. Pengobatan
Pengobatan dilakukan dengan cara memberikan obat-obat
topikal, obat sistemik, bedah kulit ataupun kombinasi cara-cara tersebut :
a.
Pengobatan topikal
Dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan
peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi, obat topikal terdiri atas:
1. Bahan iritan yang dapat melupas kulit (peeling), misalnya
sulfur (4-8%), resorsinol (1-5%), asam salisilat (2-5%), peroksida benzoil
(2,5-10%), asam vitamin A (0,025-0,1%) dan asam azeleat (15-20%).Efek samping
obat iritan dapat dikurangi dengan cara pemakaian berhati-hati dimulai dengan
konsentrasi yang paling rendah.
2. Antibiotika topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba
dalam folikel, misalnya oksi tetrasiklin (1%), eritromisin (1%), klindamisin
fosfat (1%).
3. Anti peradangan topikal, salep atau krim kortikosteroid
kekuatan ringan atau sedang (hidrokortison 1-2,5%) atau suntikan intralesi
kortikosteroid kuat (triamsolon asetonid 10 mg/cc) pada lesi nodulo-kistik.
4. Lainnya, misalnya etil laktat 10% untuk menghambat
pertumbuhan jasad renik.
b.
Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan
aktivitas jasad renik, dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi
sebum dan mempengaruhi keseimbangan hormonal. Golongan ini terdiri atas:
1. Anti bakteri sistemik : tetrasiklin (250mg-1 g/hari),
eritromisin (4x250 mg/ hari), doksisiklin(50mg/hari), trimetoprim (3x100
mg/hari).
2. Obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara
kompetitif menduduki reseptor organ target dikelenjar sebasea misalnya estrogen
(50mg/hari selama 21 hari dalam sebulan) atau antiandrogen siproteron asetat
(2mg/hari).
3. Vitamin A dan retinoid oral.
4. Obat lainnya, misalnya antiinflamasi non steroid
ibuprofen (600mg/hari),dapson (2 x100mg/hari),seng sulfat (2x200 mg/hari).
c. Bedah kulit
Tindakan bedah kulit kadang- kadang diperlukan terutama
untuk memperbaiki jaringan parut akibat akne vulgaris meradang yang berat yang
sering menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertrofik maupun hipotrofik.
Jenis bedah kulit dipilih disesuaikan dengan macam dan kondisi jaringan parut
yang terjadi.Tindakan dilakukan setelah akne vulgaris sembuh.
i.
Diagnosis banding7
a. Erupsi yang meyerupai akne karena
pemakaian kortikosteroid, halogen, INH, vit (B1,B6,B12), fenobarbital dan
preparat tiroid.
b. Folikulitis
c. Rosasea
Lupus
Eritematosus Diskoid (LED)
DEFINISI
Lupus Eritematosus Diskoid adalah penyakit kulit yang
menyebabkan skuama dan lesi kemerahan pada kulit yang diperparah oleh paparan
sinar matahari. Bercak merah biasanya berbentuk koin pada kulit. Tempat yang
paling utama untuk lesi LED biasanya terjadi pada muka, leher, dahi, telinga,
dada, bahu dan punggung atas. Lesi bagian tengah biasanya berwarna cerah
dibandingkan dengan bagian pinggir lesi yang berwarna lebih gelap dari kulit
normal.
Lupus Eritematosus Diskoid berhubungan erat dengan kondisi
lain yang disebut Lupus Eritematosus Sistemik [LES]. LES merupakan penyakit
autoimun, yang berarti system pertahanan [imun] alami tubuh menjadikan sel dan
jaringan tubuh sebagai target dan menghancurkannya. Lupus Eritematous mengacu
pada kelainan yang berdampak luas. Pada LES kelainan dapat menyerang organ
internal, sedangkan pada LED hanya menyerang kulit, tapi ada sebagian kecil LED
yang menyerang organ dalam, yang membuat penderita menjadi sakit.
Lupus Eritematosus Diskoid selalu dibatasi pada kulit, tapi
LES juga mempengaruhi sendi, ginjal, jantung, liver, dan darah selain pada
kulit. Sekitar 10% masyarakat yang terkena lupus eritematosus discoid dapat
menuju ke LES. Mustahil untuk memperkirakan siapa saja yang dapan menderita
LES, dan mustahil untuk mencegah dari timbulnya LES. Beberapa ahli percaya
bahwa orang yang dari LED ke LES mungkin merupakan penderita LES dengan lesi
discoid sebagai keluhan utamanya. Ketika orang didiagnosis dengan LES, sangat
penting untuk melakukan follow up yang teratur dengan dokter sehingga dokter
dapan memonitor kondisi dan mengenal gejala kemajuan LED ke LES.
EPIDEMIOLOGI
Di dunia, prevalensi LES berkisar dari 17-48 kasus per
100.000. prevalensi tertinggi terjadi pada orang dengan usia 40-60 tahun.
Biasanya menyerang wanita 2-3 kali lebih banyak daripada pria. LED berkisar
50-85% dari kasus lupus eritematosus kuntaneus. Pasien dengan LED jarang
mengalami penyakit sistemik yang kalihatan secara klinis. Lesi dapat timbul
sebagai jaringan parut atau atropi. Lesi yang alopesia sanga mengganggu. LED
biasanya menyerang pada ras arfika amerika dan jarang pada kaukasia dan asia.
LED dapat timbul di berbagai umur tapi terutama pada umur 20-40 tahun, dengan
rata rata umur 38 tahun. LED juga berkisar antara 15-30% dari populasi kasus
LES. 5 % kasus LED dapat mengarah ke LES.
ETIOLOGI
Lupus Eritematosus Diskoid diperkirakan sebagai penyakit
yang autoimun. Kelainan autoimun terjadi ketika sel imun salah arah menyerang
tubuh sendiri. Normalnya sel imun bekerja mengenali dan menghancurkan invasi luar,
seperti bakteri, virus, dan jamur. Insiden bertambah tinggi pada mereka dengan
kombinasi HLA. Biasanya dipicu oleh sinar matahari. Penyebab yang pasti dari
LED belum diketahui. Para ahli mempercayai bahwa kombinasi genetik, lingkungan
dan factor hormonal terlibat dalam pembentukan LED. Karena tidak ada gen
spesifik untuk LED ditemukan, para peneliti talah menemukan beberapa gen yang
berkontribusi pada pembentukan penyakit ini. Dan beberapa orang yang mempunyai
gen ini meningkatkan resiko dalam pembentukan LED. Penyakit dapat pula
diinduksi oleh obat, misalnya prokainamid, hidantoin, griseufulvin, fenil
butazone, penisilin, streptomisin, tetrasiklin, dan sulfonamide dan disebut
sebagai SLE like sindrom.
Paparan sinar matahari [radiasi ultraviolet] memerankan
peran penting dalam beberapa kasus LED. Kebanyakan rush LED terjadi pada daerah
yang terpapar langsung sinar matahari. Paparan sinar matahari dapat memicu
pembentukan rush yang baru. Pada beberapa orang, penyakit ini menghilang selama
musim dingin, dimana terdapat sedikit matahari. Stress psikologi dan infeksi
virus atau bakteri pada kulit juga dapa memicu timbulnya LED. LED tidal
menular, penyakit ini tidak menular dengan kontak kulit atau berganti-ganti
barang pribadi seperti handuk, sisir atau silet cukur.
PATOMEKANISME
Lupus eritematosus Diskoid dimulai dengan mutasi somatic
pada sel asal limfositik [lymphositic stem cell] pada orang yang
mempunyai predisposisi. Faktor genetik memang ada. Pada LED, sel
imun yang menyerang dipercaya sebagai salah satu tipe dari sel darah putih
[leukosit] yaitu limfosit T. Lesi pada kulit dan jaringan parut merupakan hasil
dan proses inflamasi dan berkarakteristik berupa lesi diskiod.
Terjadi peningkatan HLA-B7, -B8, -DR2, -DR3 dan – DQA0102
dan penurunan HLA-A2 telah dilaporkan pada pasien penderita Lupus Eritematoses
Diskoid. KOmbinasi dari HLA-DR3, HLA-DQA0102 dan HLA-B7 diperkirakan memiliki
resiko yang maksimum untuk LED. LED juga meningkat terjadi pada wanita dengan
karier X-linked penyakit granulomatous kronik. Pada pasien
LED baik laki-laki maupun perempuan usia 15 - 39 tahun terjadi peningkatan
insiden HLA-B7, dan perempuan lebih 40 tahun terjadi peningkatan insiden
HLA-B8.
Patogenesisnya juga diduga berhubungan
dengan sistem imun yaitu terjadi gangguan otoimun dan berhubungan dengan
genetik tiap individu, dimana gangguan otoimun ini terjadi ketika sel-sel
imunitas salah mengenali antigen sehingga rnenyerang tubuh sendiri. Normalnya,
sel imunitas bekerja untuk mengenali dan membantu menyerang benda asing misalnya
bakteri, virus dan jamur yang masuk ke dalam tubuh, namun dengan adanya
gangguan sistem imun, sel imun tersebut salah mengenali jaringan-jaringan tubuh
dianggap sebagai benda asing dan kemudian akan menyerang dan menghancurkan
jaringan tubuh tersebut. Interleukin [IL]-1 reseptor antagonis dan faktor
nekrosis tumor [TNF-α] polimorfik gen telah disebut sebagai faktor genetik dari
LE. Ditemukan peningkatan prevalensi dari polimorfik promotor dari TNF- α
[308A] pada pasien LE.
GEJALA
KLINIS
Pada Lupus Eritomatosus Diskoid, lesi kulit berbentuk bulat
dan timbul. Rush kemerahan ini berukuran 5-10 mm dengan bagian tengah biasanra
lebih cerah dari pada bagian tepinya. Permukaan lesi biasanya ‘warty’. Biasanya
tidak terdapat gatal atau nyeri berhubungan dengan lesi. Biasanya terjadi di
wajah, telinga, leher, dahi, dada, punggung, dan lengan.. Karena lesi biasa
bertambah besar, lesi tersebut dapat menjadi menipis dan melebar. Tanpa
pengobatan, batas-batas lesi secara bertahap tahap melebar keluar dengan bagian
tengah yang mongering [menjadi lebih cerah] dan semakin tipis menyebabkan
jaringan parut. Lesi jarang nyeri dan jarang gatal. Ketika lesi LED sembuh,
lesi tersebut meninggalkan lapisan tipis pada kulit.
Kadang kadang LED akan tampil di wajah pada lesi berbentuk
kupu-kupu [butterfly erythema] yang menutup pipi dan hidung. Lesi ini
menyebabkan jaringan parut kecil tapi menyebar yang disebabkan kapiler yang
menebal yang biasa terjadi di wajah. Lesi dapat timbul di bibir dan di dalam
mulut. Jika lesi terjadi di dahi, maka dapat menyebabkan rontoknya folikel
rambut dan menghasilkan daerah botak secara permanen. Orang dengan LED biasanya
sensitive terhadap sinar matahari. Kulit mereka sering terlihat seperti
terbakar sinar matahari dan sinar matahari sering memperburuk keadaan mereka.
Penyakit ini dapat meninggalkan sikatrik artrofik, kadang
hipertrofik, bahkan distorsi telinga atau hidung. Hidung dapat berbentuk
seperti paruh kakatua. Bagian badan yang tidak tertutup pakaian, yang terkena
sinar matahari langsung lebih cepat beresidif daripada bagian lain. Lesi-lesi
dapat terjadi dimukosa, yakni dimukosa oral dan vulva, atau di konjungtiva.
Klinis Nampak deskuamasi, kadang ulserasi dan sikatrisasi.
Varian
klinis dari LED :
1. Lupus Ertitematosus Tumidis, bercak-bercak eritematosa
coklat yang meninggi terlihat dimuka, lutut, dan tumit. Gambaran klinis dapat
menyerupai erysipelas atau selulitis.
2. Lupus Eritematosus Profunda, nodus-nodus letak dalam,
tampak pada dahi, leher, bokong, dan lengan atas. Kulit di atas nodus
eritematosus, atrofik, atau berulserasi.
3. Lupus pernio [chilblain lupus, Hutchinson], penyakit
terdiri atas bercak-bercak eritematosa yang berinfiltrasi di daerah daerah yang
tidak tertutup pakaian, memburuk pada hawa dingin.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. Tes serologi
- Beberapa pasien dengan
LED [sekitar 20%] bermanifestasi pada antinuclear antibody yang positif ketika
dites.
- Anti-Ro [SS-A]
autoantibody terdapat pada 1-3% pasien
- Antinative DNA atau
antibody anti-Sm biasanya menggambarkan LES dan terjadi pada beberpa pasien
2. Temuan Laboratoium lainnya
- Sitopenia dapat terjad
- Laju endap darah ada
pada beberapa pasien
- Reumatoid factor dapa
positif
Tes Lainnya
1. Immunopatologi
- Deposit immunologi dan
komplemen dermal-epidermal merupakan tampilan karakteristik. Jaringan yang
diuji diambil dari lesi atau pada kulit normal.biopsi jaringan normal dapat
diambil dari permukaan yang terekspos atau yang tidak terekspos. Tes untuk
kulit non lesi non ekspos merupakan Lupus Band Test [LBT]
- Penggunaan dan
interpretasi dari tes ini berdasarkan dari biopsy. Sekitar 90% pasien dengan
manifestasi LED mengarah pada tes immunoflourence [DIF] pada kulit berlesi.
Daerah membrane dari lesi kulit tidak spesifik untuk lupus dan dapat berupa
penyakit kulit lainnya. Lesi yang lama atau yang sangat baru dapat
diinterpretasikan negative pada gambaran mikroskopi immunoflourence.
Jika biopsi kulit telah mengarah pada Lupus Eritematous
Diskoid maka sebaiknya dilakukan tes yang lainnya berupa tes darah.
DIAGNOSIS
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan
gabungan antara anamnesis, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang.
Adanya plak berbatas tegas pada daerah lesi antara lain:
- Eritema
dan telengiektasis
- Sisik [scale]
- Follicular
plugging
- Perubahan
pigmen [lebih jelas pada kulit berwarna] termasuk hipopigmentasi sentral
lesi dan hiperpigmentasi area perifer lesi
- Skar dan
alopesia, jika lesi berada pada daerah kulit kepala
- Bila
lesi-lesi diatas hidung dari pipi berkonfluensi, dapat berbentuk seperti
kupu-kupu [butterfly erythema]
Diagnosis dari Lupus eritematosus
diskoid biasanya membutuhkan biopsi kulit. Biopsi digunakan untuk konfirmasi
diagnosis. Contoh lesi diambil dengan sediaan khusus selanjutnya diamati
dibawah mikroskop.Tes darah tidak dapat menjelaskan tipe antibodi yang ada pada
LED dan penampakan sisiknya biasanya tidak memberikan penjelasan apapun
mengenai lesi kulit yang lain. Biasanya lesi yang mempunyai karakteristik dapat
diidentifikasi untuk lesi dari LED. Jika terdapat antibodi dalam darah atau
gejala adanya tanda fisik yang lain, kemungkinan diagnosis mengarah ke LED. Direct
Immunoflorescence menunjukkan deposit IgG, IgM, IgA, dan C3 pada
membran basalis. Tes skrining darah untuk diagnosis SLE juga disarankan.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Banding dari LED antara lain:
1. Dermatomiositis.
Merupakan
penyakit autoimun yang menyerang otot dan kulit. Vaslkulitis dan kalsinosis
merupakan gejala yang timbul lambat pada anak-anak, pada orang dewasa ada
hubungannya dan keganasan sistemik. adanya keunguan pada kulit disertai edema
periorbital, dorsum manus, dan eritema linier pada dorsum falang.
2. Eritema Multiforme
Lesi yang klasik adalah lesi yang
berbentuk seperti iris atau sasaran tembak. Eritema yang bulat atau oval dengan
pusat warna keunguan. Distribusinya khas pada permukaan ekstensor lengan dan
tungkai, tetapi secara diagnostik yang penting adalah terdapat pada telapak
tangan dan kaki.
3. Liken Planus
Liken planus merupakan kelainan yang agak bervariasi
bentuknya dan bentuk yang paling sering adalah papula yang gatal. Predileksinya
di pergelangan tangan, kaki dan punggung. Permukaannya rata dan tampak seperti
anyaman halus dari bintik-bintik dan garis-garis sebagai Wickham’s striae,
mengkilat dan poligonal,
4.Psoriasis
Berupa makula eritematosa yang besarnya bervariasi dari
miliar sampai numular, penyakit kronis ini residif dengan skuama. Lesi tersebut
berwarna putih mengkilat. Adanya skuama yang bila digores menunjukkan tanda
tetesan lilin, goresan diteruskan, timbul auspitz dengan bintik darah dan
fenomena koebner.
5. Lupus Eritematosus Sistemik [LES]
Pada LES lesi pada mukosa lebih sering, gejala
konstusional seperti lelah, demam, penurunan berat badan lebih sering
ditemukan. Kelainan laboratorium dan imunologi juga sering ditemukan. LES ini
menyerang organ sistemik, misalnya terdapat pada :
- Ginjal yaitu sekitar 68 % proteinuria, hematuria dan
sindrom nefrotik.
- Kardiovaskuler berupa perikarditis dan efusi perikard.
- Paru-paru terjadi efusi pleura dan pneumonitis.
- Saluran cerna, nyeri abdomen dan mungkin disertai mual,
muntah, diare.
PENATALAKSANAAN
A. PENCEGAHAN
Adapun tujuan dari terapi LED adalah
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, mengontrol lesi yang telah ada,
mengurangi bekas lesi, dan untuk mencegah perkembangan lesi lebih lanjut.
Pengobatan
dimulai dengan menghindari faktor pencetus misalnya panas, obat-obatan dan
tentunya sinar matahari dan semua sumber yang menyebabkan paparan radiasi sinar
UV. Adapun cara yang digunakan untuk melindungi kulit adalah memakai pakaian
yang tertutup, topi yang lebar. Selain itu pasien disarankan untuk menghindari
penggunaan obat obatan fotosensitif seperti Hidroclorothiazid, tetrasklin,
griseofulvin, dan piroxicam.
B. PENGOBATAN TOPIKAL
- Proteksi
sinar matahari dengan menggunakan tabir surya spektrum luas-kedap air [SPF
≥ 15 dengan agen penghambat UVA seperti parsol dan mikronized
titanium dioksida.
- Glukokortikoid
lokal. Walaupun penggunaan potensi medium dari preparat ini seperti
triamcinolon acetonide 0,1% pada area sensitif wajah, obat topikal
superpoten kelas satu seperti clobetasol proprionat atau betametason
diproprionat memberikan hasil yang memuaskan pada kulit. Penggunan 2 kali
sehari selama 2 minggu diikuti dengan 2 minggu periode istirahat dapat
meminimalkan komplikasi seperti atropi dan telengiektasis. Salep lebih
efektif daripada krim pada lesi hiperkeratosis.
- Glukokortikoid
intralesi. Penggunaan intalesi glukokortikoid seperti suspensi
triamsinolon asetonida 2,5 sampai 5 mg/ml pada wajah dengan konsentrasi
tinggi dibolehkan pada kulit yang kurang sensitif. Hal ini diindikasikan
pada lesi hiperkeratosis atau pada lesi yang tidak merespon pada
penggunaan kortikosteroid lokal, namun pasien dengan lesi yang terlalu
banyak perlu berhati-hati dengan penggunaan terapi ini.
C. PENGOBATAN SISTEMIK
Anti malaria adalah obat pilihan yang
efektif untuk LED. Klorokuin [CQ] Hidroklorokuin [HCQ], dan kuinakrin adalah
tiga obat yang sering digunakan. Adapun mekanisme dari obat ini adalah
- Menginterfensi
proses antigen dalam makrofage dan sel presenting antigen lainnya
- Mengurangi
formasi dari peptida – Major Histocompatibility Complex [MHC]
kompleks protein sehingga menurunkan stimulasi dari autoreaktif CD4+ sel T
dan menurunkan pelepasan sitokin.
- Memperkenalkan
apoptosis pada limfosit, dan
- Menurunkan
kadar IL-6, IL-1α, dan TNF-α..
Pada beberapa pasien, hidoklorokuin
dimulai dengan dosis 200 mg per hari untuk menilai toleransi saluran cerna
terhadap dosis obat yang diberikan. Apabila pasien tidak mengalami diare atau
gangguan saluran cerna dosis ditingkatkan dua kali lipat menjadi dua kali 200
mg per hari. Dosis maksimal hidroklorokui kurang dari 6,5 mg/kgBB/hari.
Pemberian hidroklorokuin selama 3-4minggu pertama kemudian dosis dikurangi
perlahan-lahan selama 3-4 minggu kemudian dengan pemberian 1 kali sehari.
Sedangkan Kuinakrin dapat diberikan jika tidak ada respon terhadap klorokuin
dan hidroklorokuin. Efek samping dari klorokuin adalah retinopati pada mata,
sakit kepala mengantuk dan gangguan sistem saluran cerna.
Farmakoterapi bertujuan untuk mengurangi
angka kesakitan dan untuk mencegah komplikasi. Hidroksikloroquin dan kloroquin
telah memperlihatkan hasil yang bermanfaat dalam mengobati LED. Terapi
alternative, laporan anekdot, dan percobaan kecil berpendapat bahwa obat-obat
berikut mungkin berguna pada beberapa pasien: dapson, auranofin, quinakrine,
thalidomid, isotretinoin, acitretin, azathioprin, mikofenolat mofetil,
fenitoin, interferon, dan antibodi monoklonal simerik.
Kategori Obat: Obat Anti Malaria –
mungkin memiliki bagian imunomodulator. Hidroksikloroquin merupakan obat
pilihan utama [drug of choice] bila obat sistemik dibutuhkan untuk LED. Kloroquin adalah obat
pilihan kedua.
|
Nama Obat
|
Hidroksikloroquin
[Plaquenil] – Untuk pengobatan LED dan LES. Menghambat kemotaksis eosinofil,
gerakan netrofil, dan merusak reaksi komplemen antigen antibodi.
Hidroksikloroquin sulfat 200 mg sama dengan 155 mg hidroksikloroquin basa dan
250 mg kloroquin fosfat.
|
|
Dosis Dewasa
|
200-400 mg/hr PO; tidak melebihi 6.5 mg/kgBB/hr; 310 mg PO 4x/hr
atau 2x/hr selama beberapa minggu tergantung respon; 155-310 mg/hr untuk
terapi jangka panjang.
|
|
Dosis Anak
|
6.5 mg/kgBB/hr PO; 3-5 mg basa/kgBB/hr PO 4x/hr atau 2x/hr;
tidak melebihi 7 mg/kg/hr.
|
|
Kontraindikasi
|
Hipersensitifitas;
psoriasis; gangguan retina dan lapangan pandang akibat 4-aminoquinolon.
|
|
Interaksi Obat
|
Jumlah penisillamin dapat meningkat; level serum meningkat
bersama simetidin; magnesium trisilikat dapat menurunkan absorbsi.
|
|
Kehamilan
|
Keamanan penggunaan selama kehamilan tidak
dijelaskan.
|
|
Perhatian
|
Melewati plasenta dan dapat menyebabkan toksisitas pada ocular,
SSP, dan ototoksik pada fetus; jangan gunakan selama menyusui; batasi
penggunaan pada anak pada dosis yang aman untuk mencegah kemungkinan yang
fatal; toksisitas ocular dapat disebabkan oleh hidroksikloroquin dan
kloroquin tapi tidak oleh quinakrin; lakukan pemeriksaan oftalmologi yang
teratur selama terapi.
|
|
Nama Obat
|
Kloroquin [Aralen] – Menghambat kemotaksis eosinofil, gerakan
netrofil, dan merusak reaksi komplemen antigen antibodi.
|
|
Dosis Dewasa
|
250-500 mg PO 4x/hr
|
|
Dosis Anak
|
10 mg/kgBB PO 1 jam pertama, kemudian 5 mg/kgBB 6 jam
berikutnya, diikuti dengan 5 mg/kgBB pada hari kedua dan ketiga.
|
|
Kontraindikasi
|
Hipersensitifitas;
psoriasis; gangguan retina dan lapangan pandang akibat 4-aminoquinolon.
|
|
Interaksi Obat
|
Simetidin dapat meningkatkan level serum dari kloroquin
[kemungkinan 4-aminoquinolon yang lain]; magnesium trisilikat dapat
menurunkan absorbsi dari 4-aminoquinolon.
|
|
Kehamilan
|
Keamanan penggunaan selama kehamilan tidak dijelaskan.
|
|
Perhatian
|
Perhatian pada penyakit hati, defisiensi G-6-PD, psoriasis,
porfiria; tidak dianjurkan terapi jangka panjang pada anak-anak; lakukan
pemeriksaan oftalmologi yang teratur; lakukan tes untuk kelemahan otot.
|
Thalomide [50 – 300mg/hari] sangat
efektif pada LED yang refrakter terhadap pengobatan lainnya. Beberapa studi
melaporkan keberhasilan antara 85-100%, dengan banyak laporan pasien yang
menyatakan sembuh sempurna. Adapun efek sampingnya ialah efek teratogenik,
sehingga sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil. Selain itu neuropati
sensorik dapat terjadi pada sekitar 25% dari padien yang mengkonsumsi obat ini.
Obat lain yang dapat digunakan yaitu
preparat emas [auranofin, mycochrysine] dan clofazimin [lampren]
walaupun hasilnya bervariasi pada tiap kasus.
Glukokortikoid sistemik sebaiknya tidak
digunakan pada kasus dengan lesi yang sedikit, namun pada beberapa kasus
khususnya pada kasus berat dan simtomatik metilprednisolon intravena dapat
digunakan. Imunosupresif lain seperti azatioprin [imuran] 1,5 -2 mg/kg/hari
oral dapat bertindak sebagai glukokortikoid-sparing kasus berat lupus
eritematosus kulit. Mikofenolat mofetil [25-45 mg/kg/hari oral] maerupakan
analog purin yang serupa dengan azatioprin. Metotreksat [7,5-25mg/kg oral sekali
seminggu] efektif untuk kasus berat yang refrakter.
D. TERAPI BEDAH DAN KOSMETIK
LED dapat membuat alopesia permanen, atropi kulit, dan
perubahan pigmen. Intervensi bedah seperti transplantasi rambut dan dermabrasi
membawa resiko karena LED dapat dipicu oleh trauma termasuk opersi. Pemulihan
dari skar atropi dengan Erbium : YAG atau laser karbon dioksida dilaporkan
bermanfaat. Injeksi lesi atropi menggunakan kolagen atau sejenisnya sebaiknya
dihindari.
Pengobatan alternatif adalah diet yang
sehat, mengurangi konsumsi daging merah, dan banyak menkonsumsi ikan yang
mengandung asam lemak esensial omega-3, misalnya makarel, sarden, dan salmon.
Suplemen makanan [Vit B,C, E dan selenium] dipercaya dapat mengurangi lesi LED.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada LED
berupa skar atau atropi, tetapi dapat dicegah dengan pengobatan dini. Perubahan
lain yang terjadi termasuk hiperkeratosis dan penyumbatan folikuler. Gejala
sistemik yang serius jarang terjadi, tetapi apabila itu terjadi gejala sisa [sequele]
seumur hidup.
PROGNOSIS
Sekitar 10 % pasien yang menderita LED
akan berkembang menjadi LES. Beberapa pasien dapat merasakan nyeri yang
berlanjut disekitar lesi atau merasakan ketidaknyamanan akibat skar dan atrofi
yang timbul. Kemungkinan eksaserbasi dapat muncul terutama pada musim semi dan
musim panas. Dengan demikian, prognosis LED umumnya baik. Walaupun lesi kulit
dapat menetap beberapa tahun dan kosmetik kelihatan tidak baik tetapi hal
tersebut tidak mengganggu aktivitas dan gaya hidup pasien.
Daftar Pustaka
1. Dorland, Newman.
Kamus kedokteran DORLAND edisi 29. Jakarta : EGC; 2002
2. Junqueira LC,
Carneiro J. Histologi Dasar Teks
& Atlas. 10th ed. Jakarta: EGC; 2007.
3. Tortora G,
Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. 11th ed. USA:
John Wiley & Sons Inc; 2006. p. 145-70
4. Djuanda, A; Hamzah,
M; Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi Keenam. 2010. Jakarta : FK UI
5. Moschella SL,
HurMley HJ, Eds. Dermatology. 3rd ed. Philadelpia : WB Saunders Co.
1992
6. Fitzpatrick JE, JL
Aeling. 2001. Dermatology Secrets in Color 2nd Ed.
Hanley & Belfus Inc : Philadelphia.
7.
Harahap, Marwali. 2013. Ilmu
Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.
8. Sylvia A price,
Lorraine M. Wilson Patofisiologi konsep
klinis proses proses penyakit. Jakarta : EGC. 2003.
10. Wolff K, Johnson, R.A. Suurmond D.
2005. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology 5th ed,
Hal 18-54. McGrow-Hill Medical Publishing Division
11. Pendit BU. 1998. Dermatologi Praktis Terjemah
dari Practical Dermatology by Beth Goldstein & Adam O Goldstein.
Hipokrates: Jakarta.
12. Anonim, 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Bagian
farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Gayabaru, Jakarta
13. Anonim, 2008, MIMS
Indonesia petunjuk konsultasi, Edisi 8, CMPMedica Asia Pltd, Singapore
14. Staf pengajar
departemen farmakologi FK universitas sriwijaya Kumpulan kuliah farmakologi
ed.2. Jakarta:EGC.2008
15.Purnamasari,dewi.dkk. Hubungan pengetahuan dan perilakudengan derajat Keparahan
akne vulgaris pada siswa-Siswi sma negeri 14 Semarang.
at : http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/142/jtptunimus-gdl-dewipurnam-7052-1-abstrak.pdf.
Diakses pada 26 oktober 2014.
16.Rahmawati, dewi.2012. Hubungan Perawatan Kulit Wajahdengan
Timbulnya Akne Vulgaris. At: http://eprints.undip.ac.id/37467/1/Dewi.R_G2A008053_LAP_KTI.pdf.
Diakses pada 26 svsvoktober 2014.
\